'Sepur Tumbuk' Tragedi Tabrakan Kereta Uap yang Terlupakan di Magelang

Warga di Dusun Bondo, Magelang menyebutnya 'sepur tumbuk' Namun, tak banyak yang mengetahuinya secara detail

'Sepur Tumbuk' Tragedi Tabrakan Kereta Uap yang Terlupakan di Magelang
Koleksi Bagus Priyana (KTM)
Foto hitam putih memperlihatkan rangkaian kereta uap yang saling bertabrakan di Blondo, Magelang 

Pak Upan usianya sekarang 49 tahun. Ia tidak tahu apa-apa tentang tragedi berpuluh-puluh tahun lalu itu, kecuali cerita turun temurun yang didengarnya dari orang tua, kakek nenek, dan tetua-tetua kampung.

Percakapan berlangsung persis di depan rumah keluarga Mbah Chomsin, di dusun yang sama yang letaknya di sebelah barat laut Jembatan Kali Elo di daerah Blondo. Wilayah ini terletak di antara Blabak dan Mertoyudan.

Mbah Chomsin ini saksi hidup terakhir yang masih sempat bisa bercerita langsung dua tahun lalu.

Kisah Kehidupan Masinis Kereta Api Tragedi Bintaro, Kini Dia Bertahan Hidup dengan Berjualan Rokok

Sayang, setahun lalu Mbah Chomsin meninggal dunia.

Cucunya yang ditemui hanya menggelengkan kepala saat ditanya tentang cerita tragedi Blondo.

Warga Dusun Blondo lain, serta para pemukim yang kini mendiami bekas jalur kereta di sebelah selatan Jembatan Blondo, umumnya hanya tahu di lokasi itu pernah terjadi kecelakaan kereta api.

Ini Penyebab Tragedi Bintaro Menurut KNKT

Detail ceritanya, mereka tidak pernah tahu. Apalagi melihat secara langsung bukti-bukti foto sesudah kejadian.

“Kami sama sekali tidak tahu, kecuali pernah dengar cerita lisan dari beberapa orang,” kata Rahmat, seorang warga di selatan Jembatan Blondo.

Bagus Priyana, Koordinator Komunitas Kota Tua Magelang (KKTM) lah yang dua tahun lalu bertemu Mbah Chomsin ini.

Ini Cerita Dibalik Tragedi Bintaro 1

“Waduh, sayang ya, kita sudah tidak bisa ketemu lagi dengan beliau,” kata Bagus.

Halaman
1234
Penulis: xna
Editor: mon
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved