ADVERTORIAL

Desa Baleharjo Wujudkan Wahana Kesejahteraan Sosial Berbasis Masyarakat

Tahun ini Desa Baleharjo mendapatkan dana desa sebesar Rp 900 juta untuk membuat berbagai inovasi mulai dari pengembangan SDM, pembangunan fisik.

Penulis: Wisang Seto Pangaribowo | Editor: Gaya Lufityanti
TRIBUNJOGJA.COM / Wisang Seto
Warga saat melihat hasil hidroponik yang ditanam oleh warga Desa Baleharjo, Kamis (8/8/2019). 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Wisang Seto Pangaribowo

TRIBUNJOGJA.COM, GUNUNGKIDUL - Dana desa yang dikucurkan langsung pemerintah pusat sejak 2015 dimanfaatkan langsung oleh Desa Baleharjo, Kecamatan Wonosari untuk berbagai kegiatan.

Selain membangun fisik atau sarana dan prasarana Desa Baleharjo juga mengembangkan sumber daya manusia (SDM).

Kepala Desa Baleharjo, Agus Setyawan menuturkan tahun ini desanya mendapatkan dana desa sebesar Rp 900 juta, dari dana tersebut Desa Baleharjo membuat berbagai inovasi mulai dari pengembangan SDM, pembangunan fisik, hingga inovasi untuk mensejahterakan masyarakat Desa Baleharjo.

Palette: Tips Merawat Wajah Saat Musim Panas

"Untuk Kesejahteraan masyarakat kami ada inovasi yaitu Wahana Kesejahteraan Sosial Berbasis Masyarakat (WKSBM). Saat ini gotong royong sudah mulai terkikis untuk itu WKSBM hadir untuk gotong royong membantu masyarakat kurang mampu," ucapnya pada Tribunjogja.com, Kamis (8/8/2019).

Agus menjelaskan, cara kerja dari WKSBM adalah menggalang dana dari masyarakat yang telah sejahtera dengan sukarela, dan nantinya dana yang didapat disalurkan langsung kepada masyarakat yang belum tersentuh bantuan dari pemerintah daerah maupun pusat.

"Bantuan diberikan kepada janda atau duda yang telah tua, lalu yatim piatu, dan difabel. Sedangkan dana desa berperan dalam membantu WKSBM untuk biaya oprasional. Kami anggarkan dari dana desa untuk WKSBM sebesar Rp 5 juta itu untuk memenuhi rapat dan alat tuli. Namun besaran tersebut masih kurang," katanya.

Truk Bermuatan 27 Pedagang Terguling di Gunungkidul

Sedangkan untuk pembangunan fisik ia memaparkan Desa Baleharjo telah membantu masyarakat kurang mampu membangun jamban sehat, dan juga untuk pembangunan saluran air hujan.

"Saat ini tinggal 10-20 rumah yang belum terbangun jamban sehat tetapi kami berusaha semaksimal mungkin untuk segera menuntaskaskan pembangunan jamban di masyarakat yang kurang mampu," ujarnya.

Selain itu, pihaknya juga memberikan pelatihan bagaimana cara bercocok tanam dengan metode hidroponik ke masyarakatnya untuk memenuhi kebutuhan sayuran mengingat di Kabupaten Gunungkidul merupakan kabupaten yang kering.

"Saat ini hidroponik baru berjalan satu tahun, dan pelatihan hidroponik ini adalah untuk menciptakan enterprener baru di masyarakat Baleharjo," ucapnya.

Saat ini hasil dari hidroponik memang belum dipasarkan ke masyarakat luar Baleharjo, sambung Agus.

Desa di Gunungkidul Ikrarkan Sehari Dua Jam Tanpa HP dan TV

"Saat ini belum ada kendala karena posisi Baleharjo ini berada di tengah kota maka penyakit maupun hama tanaman sangat kecil kemungkinan menular di tanaman hidroponik," katanya.

Ia menambahkan pengembangan hidroponik diikuti kurang lebih seratus orang dari desa Baleharjo.

"Kalau anggaran dari dana desa yang dipakai kurang lebih Rp 35 jutaan," katanya

Sementara itu, Penyuluh pertanian di Desa Baleharjo Budi kuncoro mengatakan hidroponik dimulai sudah sejak 2 tahun lalu karena perkembangan di Baleharjo bagus maka pada tahun ini dibantu dengan dana desa.

"Anggaran dari dana desa untuk emlakukan penyuluhan di seluruh padukuhan di Baleharjo sebanyak Rp 25 juta. Yang mengikuti penyuluhan total berkisar 30 orang," katanya.(*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved