Sejarah Perkembangan Campursari, Berawal dari R.M Samsi, Manthous hingga Era Didi Kempot

Sejarah Perkembangan Campursari, Berawal dari R.M Samsi, Manthous hingga Era Didi Kempot

Editor: Hari Susmayanti
KOMPAS.com/GARRY LOTULUNG
Penyanyi campursari, Didi Kempot saat cek sound sebelum acara program Rosi di Kompas TV di Menara Kompas, Jakarta, Kamis (1/8/2019). 

TRIBUNJOGJA.COM - Lagu-lagu berbahasa jawa yang dibawakan oleh penyanyi campursari Didi Kempot banyak digandrungi oleh generasi muda.

Bahkan, nama Didi Kempot semakin melambung dan mendapatkan julukan  The Godfather of Broken Heart.

Musik campursari yang mengusung bahasa daerah pun dengan mudah diterima di tengah-tengah masyarakat.

Terus bagaimana sejarah keberadaan musim campursari di Tanah Air?

Merujuk dari etimologi (bahasa), campursari dibentuk dari 2 suku kata bahasa jawa, yakni campur dan sari.

Istilah campur mempunyai banyak pengertian, sementara sari diartikan sebagai inti sari, atau yang terbaik dari sesuatu.

Didi Kempot Pengen Banget Duet dengan Penyanyi yang Nyanyi Menjiwai. Ini Dia Penyanyinya

Menurut penelitian Tri Laksono dari ISI Yogyakarta, yang berjudul "Perspektif Historis Campursari dan Campursari ala Manthous" disebutkan, Campursari merupakan perpaduan instrument gamelan dan instrument Barat yang tentu juga terkait dengan penggabungan tangga nada pentatonis dan diatonis.

Semisal pencampuran alat musik tradisional dengan modern.

Sementara itu, sesuai dengan jurnal dari Universitas Semarang tentang Jejak Campursari (The History of Campursari) yang ditulis oleh Joko Wiyoso, campursari pertama kali diperkenalkan pada tahun 1953 oleh R.M Samsi yang tergabung dalam kelompok Campursari RRI Semarang.

Awalnya tidak banyak yang mereka lakukan selain secara rutin mengisi siaran RRI Semarang setiap Rabu Malam.

Era Pertama Campursari

Memasuki tahun 1978, kelompok campursari besutan R.M Samsi itu berhasil menembus perusahaan rekaman swasta yang bernama Ira Record Semarang.

Dalam kurun waktu 1978-1980, kelompok campursari tersebut mampu menghasilkan 9 album rekaman.

Meski sudah mampu menciptakan 9 album, tidak membuat kelompok campursari RRI ini bertahan eksistensinya.

Bahkan keberadaannya masih belum dikenal secara luas oleh masyarakat.

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved