Bantul

Dwi Karti Handayani Berupaya Bawa Wedang Uwuh ke Kancah Dunia

Handayani mengaku membidik segmentasi pasar wisatawan. Wedang uwuh 'den Bagus dikemas sebagai cinderamata.

Tayang:
Penulis: Ahmad Syarifudin | Editor: Ari Nugroho
TRIBUNJOGJA.COM / Ahmad Syarifudin
Dwi Karti Handayani, 49, menunjukkan packaging wedang uwuh yang lebih menarik. Bisa digunakan sebagai cinderamata. 

TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Masyarakat Jawa, terutama di Yogyakarta sudah sejak lama mengenal olahan minuman tradisional yang dipercaya baik bagi kesehatan tubuh.

Minuman tersebut biasanya dari rempah-rempah alami dengan campuran gula batu yang kemudian disebut sebagai wedang.

Salah satunya adalah wedang uwuh.

Minuman tradisional ini memiliki rasa manis namun sedikit pedas, karena terdapat olahan jahe.

Paling menarik dari wedang uwuh sebenarnya adalah warnanya, merah cerah.

Warna merah ini dihasilkan dari rempah kayu secang.

Wedang Uwuh Bakal Dipatenkan Jadi Produk Asli Bantul

Minuman asal Kabupaten Bantul tersebut sudah cukup populer di masyarakat luas.

Bukan hanya di Yogyakarta saja. Namun melalui sentuhan tangan dingin Dwi Karti Handayani, wedang uwuh sekarang sudah merambah hingga Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, Jakarta bahkan tingkat Internasional.

Handayani mengemas wedang uwuh dengan cara berbeda.

Bukan hanya bungkus plastik.

Namun dengan tampilan kemasan yang jauh lebih menarik.

"Selama ini wedang uwuh memiliki image tradisional. Kemasan masih sangat sederhana. Saya ingin wedang uwuh go Internasional," kata Handayani, Jumat (2/8/2019)

Dibawah bendera Den Bagus, perempuan asal Imogiri Bantul itu sering mempromosikan wedang uwuh dengan mengikuti pameran hingga luar negeri. Antara lain ke Jeddah, Kamboja, Thailand, dan Malaysia.

"Sudah ada distributor saya juga di Malaysia. Rencana pengen buka stand di Kuala Lumpur," terang dia.

Wedang uwuh 'den Bagus' menurutnya sudah terdaftar di Kementerian Hukum dan Ham.

Bahkan sudah pernah mendapatkan rekor MURI kategori sajian wedang uwuh terbanyak.

Rekor tersebut didapatkan pada tanggal 28 Oktober 2018 silam. Kala itu, diceritakan Handayani, pihaknya berhasil mengumpulkan 9.178 orang.

Dengan sajian wedang uwuh mencapai 11 ribu gelas.

"Saat ini rekor itu masih yang terbanyak," tutur perempuan 49 tahun itu.

Wedang Sari Salak Khas Jatimulyo Kulonprogo Hasil Binaan Rumah Zakat

Handayani sendiri sudah lima tahun terjun dalam bisnis wedang uwuh.

Tepatnya sejak tahun tahun 2015 silam. Usaha tersebut dirintis dengan niatan untuk mengayubagyo warisan leluhur.

Menurut dia, resep wedang uwuh yang dijual selama ini didapatkan dari simbah.

Ide awal, karena melihat wedang uwuh masih dikemas sangat tradisional. Kemudian coba-coba membuat kemasan.

"Inspirasinya melihat kemasan di jalan. Kemudian modifikasi sendiri," papar dia.

Hingga saat ini, Handayani sudah mengeluarkan produk paper bag sebagai kemasan wedang uwuh berbagai jenis.

Ada yang isi 10 dan adapula yang isi 20. Ada juga varian instan, celup, original hingga kemasan gula semut dan botol.

Wedang uwuh dijual secara offline dan online. Sudah ada website. Namun demikian, menurut dia, omzet penjualan paling banyak masih didominasi dari penjualan offline.

"Offline di Jawa tengah, Jawa timur, Jawa Barat, DIY, DKI Jakarta. Disana sudah ada distributor. Kalau penjualan online kebanyakan dari luar Jawa," terang dia.

Alasan mengapa mengemas wedang uwuh dalam kemasan yang menarik.

Handayani mengaku membidik segmentasi pasar wisatawan. Wedang uwuh 'den Bagus dikemas sebagai cinderamata.

"Toko oleh-oleh yang bagus-bagus di Yogyakarta sudah masuk semua. Termasuk sudah ada juga di super market," tutur dia, lalu tersenyum.(TRIBUNJOGJA.COM)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved