Yogyakarta

Sigit Harap Malioboro Tetap Hidup di Malam Hari

Kepala Dinas Perhubungan DIY, Sigit Sapto Raharjo berharap Malioboro untuk ke depan bisa menjadi lebih hidup.

Sigit Harap Malioboro Tetap Hidup di Malam Hari
Tribun Jogja/ Andreas Desca Budi Gunawan
Ilustrasi: Situasi di kawasan Malioboro Yogyakarta, Kamis (25/7/2019) siang 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Kepala Dinas Perhubungan DIY, Sigit Sapto Raharjo berharap Malioboro untuk ke depan bisa menjadi lebih hidup. 

Hal ini nantinya bisa dibarengi dengan banyak cafe atau kedai kopi yang membuat Malioboro tetap menjadi hidup sekalipun di malam hari.  

"Bisa tidak dagangan di Malioboro berubah.  Misalnya ada coffeeshop dan menyesuaikan zaman sebagai bentuk inovasi," kata Sigit,  kemarin. 

Uji Coba Semi Pedestrian Malioboro Akan Terus Dievaluasi

Sigit menjelaskan, beberapa pengusaha perlu menangkap animo masyarakat yang suka dengan kegiatan nongkrong.

Sementara, dia melihat masih banyak pedagang yang menjual barang dagangan yang kurang up to date.  

"Tidak hanya jualan kasur misalnya, tetapi bagaimana di Malioboro bisa belanja, makan dan nongkrong. Sehingga sampai malam hari pun tetap hidup, " katanya. 

Terkait dengan konsep penataan yang sempat ditolak sejumlah PKL, Sigit juga menegaskan jika pemerintah tak ingin menyengsarakan rakyat. 

Penataan ini menjadi bagian penting dalam rangka menata ikon Yogya ini. 

Masyarakat Ingin Uji Coba Semi Pedestrian Malioboro Lebih Sering, Ini Tanggapan Wali Kota Yogya

"Meski persoalan (PKL)  ini adalah kewenangan Kota tetapi,  tidak ada pemerintah yang ingin menyengsarakan masyarakatnya.  Pak Wali Kota juga pernah bilang kalau lapak tidak perlu besar yang penting dagangan lengkap, " paparnya. 

Adapun untuk jam pemberlakuan penutupan pun bisa saja berubah. 

Animo masyarakat cukup besar akan pertunjukan bisa saja membuat penutupan hingga pukul 00.00 WIB. 

"Bisa saja event dari pukul 12.00 hingga 00.00 WIB. Karena,  kalau sampai pukul 21.00 masih kesulitan lalu lintasnya, " tandasnya.  

Keterlibatan pengusaha dengan adanya event pun terlihat. 

Bahkan, ada beberapa kedai kopi dan warung yang antusias dengan menyediakan makanan gratis di kawasan tersebut.  

Wisatawan Sambut Baik Uji Coba Kawasan Semi Pedestrian Malioboro Tanpa Kendaraan Bermotor

Kepala Dinas Pariwisata DIY,  Singgih Raharjo menjelaskan adanya kesenian dan panggung terpanjang ini juga menyedot perhatian masyarakat dan menarik sejumlah wisatawan dari luar DIY juga ikut berwisata ke Malioboro.

Singgih menambahkan, selain identifikasi,  pengaturan spot-spot acara juga penting dilakukan.

Sehingga kawasan Malioboro bisa semakin nyaman untuk dinikmati selama ditutup dari kendaraan bermotor.

Dalam penampilan kesenian Selasa Wage lalu,  ada penampilan ini diantaranya adalah YK Brass Ensemble di Inna Garuda, Pemutaran film di Perpustakaan Malioboro yang juga di halaman DPRD DIY, Pentas Wayang Beber, orchestra youth camp MSO, tarian reog, cakil squad macapatan di Malioboro mal.

Sementara ada penampilan music jazz di coffee corner pertigaan jalan Dagen; Lelaku Gamelan Virtual, videowall exhibition di depan Hotel Mutiara; Dialog Budaya dan Gelar Seni “Yogya Semesta” di gerbang barat Kepatihan; Gelar Seni dan Potensi UKM Ekspos Sejarah di Plaza SO1 Maret: Pembelajaran Pantomim di titik nol kilometer; Sosialisasi Warisan Budaya di Museum Sonobudoyo; Barongsai Hoo Happ Hwee di Gapura Ketandan; Workshop dan performance di depan Hamzah Batik; campursari di depan Pasar Beringharjo.

Ada pula njathil bareng polisi di depan Gedung Agung dan pemutaran serta diskusi film di Benteng Vredeburg. (TRIBUNJOGJA.COM) 
 

Penulis: Agung Ismiyanto
Editor: Ari Nugroho
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved