Bisnis

Dilema dan Minimnya SDM Berkualitas di Dunia Digital

Topik tentang talenta digital memang tengah menjadi bahasan menarik di berbagai diskusi kalangan pemerintah dan industri.

Penulis: Wahyu Setiawan Nugroho | Editor: Ari Nugroho
Istimewa
Niagahoster bekerjasama dengan Amikom Computer Club (AMCC) Yogyakarta mengadakan Digitalent National Talk pada Sabtu, 20 Juli 2019 lalu 

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Berkerja sama dengan perusahaan web-hosting Niagahoster, Amikom Computer Club (AMCC) Yogyakarta mengadakan Digitalent National Talk pada Sabtu, 20 Juli 2019 lalu.

Acara yang dihadiri mahasiswa IT se-Yogyakarta ini membahas tentang kualitas SDM di era digital dan dilematika penyaluran talenta ke perusahaan digital yang mengalami tantangan serius akhir-akhir ini.

Topik tentang talenta digital memang tengah menjadi bahasan menarik di berbagai diskusi kalangan pemerintah dan industri.

Tanda Tangan Digital Diprediksi akan Jadi Tren Seiring Menjamurnya Platform Keuangan

Tak lain terkait tantangan revolusi industri 4.0. Tak hanya itu, banyak pula keluhan dari industri digital yang kesulitan mencari talenta yang sesuai dengan kebutuhan perusahaan di masa kini.

Sedangkan secara data, talenta digital Indonesia masih kalah dari India.

Padahal pada 2030, Indonesia diproyeksikan kekurangan tenaga kerja ahli sekitar 18 juta.

Talenta digital di sini tidaklah terbatas tenaga yang memiliki kemampuan di bidang IT saja, namun juga kemampuan seseorang mengadaptasi perkembangan teknologi untuk keseharian pekerjaan mereka.

Baru 30 Persen UMKM di DIY yang Go Digital

Dengan perkembangan infrastruktur yang masif, Indonesia tampaknya juga harus segera melakukan perbaikan dalam mempersiapkan tenaga ahli yang peka dan paham digital.

Wayan Cahyono, Head of Product Niagahoster, mengonfirmasi data ini dan memberikan pendapat dari sudut pandangan perusahaan teknologi.

"Sebagai orang yang bekerja di perusahaan teknologi, saya akui jika skill dan pengalaman
menjadi hal yang lebih dipertimbangkan. Selain itu, kemampuan berbahasa Inggris juga menjadi nilai tambah bagi para pelamar," ujarnya.

Dari fakta ini dapat dipahami bahwa persoalan penyelarasan SDM dengan kebutuhan industri merupakan pekerjaan rumah bersama pemerintah, industri, dan institusi pendidikan terkait.

GO-PAY Digitalisasi Keuangan Masjid di Indonesia

Pemerintah saat ini telah berupaya mengejar ketertinggalan ini dengan menjalankan beberapa program seperti; Digital Talent Scholarship oleh Kominfo dan program perbaikan kualitas SMK oleh Kemendikbud.

Perbaikan ini memang baik, namun diperlukan adanya regulasi yang terintegrasi dan masif
dilaksanakan di seluruh Indonesia.

Contohnya adalah penyesuaian kurikulum, mengundang pengajar dari kalangan praktisi digital, hingga edukasi tentang proyeksi pekerjaan pilihan di masa depan.

Wayan Cahyono sekali lagi menegaskan bahwa peluang kerja bagi para milenial dapat diperoleh dimana pun, tidak terbatas pada bekerja untuk perusahaan digital.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved