Pendidikan

TNP2K : Pendidikan sebagai Kunci Pencapaian SDGs

Saat ini pemerintah Indonesia sudah berada pada jalur yang tepat untuk mengentaskan kemiskinan dan kerentanan yang ditargetkan tercapai pada 2030.

TNP2K : Pendidikan sebagai Kunci Pencapaian SDGs
istimewa
Suasana pembukaan Biennial Konferensi Internasional ke 21st International Consortium for Social Development yang diselenggarakan oleh Departemen Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan (PSdK), Fisipol, UGM dengan International Consortium for Social Development, Arizona State University, Singapore University of Social Science, The University of Kansas, Survivor Link dan Asosiasi Pembangunan Sosial Indonesia pada 16 – 19 Juli 2019 di Fisipol, UGM. 

TRIBUNJOGJA.COM - Sampai saat ini, kemiskinan dan kerentanan masih menjadi tantangan dalam mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs) di Indonesia.

Menurut Sudarno Sumarto, Ph D dari Tim Nasional TNP2K Indonesia, kerentanan dan kemiskinan ini dapat diperbaiki melalui investasi pada jaminan sosial di bidang pendidikan.

Menurutnya, sampai saat ini pemerintah Indonesia sudah berada pada jalur yang tepat untuk mengentaskan kemiskinan dan kerentanan yang ditargetkan tercapai pada tahun 2030.

Hal ini dibuktikan dengan data penurunan jumlah populasi orang miskin dan peningkatan pertumbuhan ekonomi.

Lemari Lila Padukan Kain Batik dan Desain Kasual

"Kerentanan yang terjadi hari ini harus diperbaiki agar tidak terulang dimasa mendatang. Dengan demikian strategi investasi perlindungan sosial di bidang pendidikan menjadi relevan untuk mengentaskan masalah kemiskinan dan kerentanan yang terjadi pada hari ini dan di masa mendatang," ungkap Sudarno yang merupakan pembicara kunci dalam Biennial Konferensi Internasional ke 21st International Consortium for Social Development yang diselenggarakan oleh Departemen Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan (PSdK), Fisipol, UGM dengan International Consortium for Social Development, Arizona State University, Singapore University of Social Science, The University of Kansas, Survivor Link dan Asosiasi Pembangunan Sosial Indonesia pada 16 – 19 Juli 2019 di Fisipol, UGM.

Sudarno mengungkapkan perumusan kebijakan yang berpihak pada masyarakat miskin, investasi pada kesehatan dan pendidikan dan keuangan yang inklusif juga merupakan hal yang harus ditekankan.

Pada kesempatan yang sama Prof Annamaria Campanini, President International Association of School of Social Work (IASSW) mengatakan bahwa dalam pembangunan sosial mengakui adanya hak asasi manusia juga dibutuhkan.

UGM Uji Coba Amphibi Gama V2

"Di samping adanya tanggung jawab kolektif, mengakui adanya hak asasi manusia juga dibutuhkan untuk bisa hidup bersama," terangnya.

Sementara itu, Prof Dr Susetiawan, Guru Besar Departemen PSdK Fisipol UGM, menegaskan perlu adanya pemikiran ulang terkait dengan hak asasi manusia yang selama ini menekankan pada hak-hak individu saja.

"Hak asasi manusia berkembang setelah situasi ketidakadilan, kekerasan, dan penindasan mewarnai kehidupan yang menuju pada proses dehumanisasi. Pendekatan ini menyisakan masalah pada dirinya sendiri ketika berhadapan dengan pendekatan komunal atau sosial," katanya.

Menurutnya, pendekatan individual tidak bisa digeneralisasikan untuk semua penduduk dunia karena terdapat suku bangsa yang meletakan hak asasinya atas prinsip komunalitas atau kolektivitas.

"Selain itu pendekatan individual telah mengakibatkan pemiskinan terhadap mereka yang terpinggirkan. Walaupun disisi lain setiap orang berhak untuk memiliki hidup secara layak," katanya.

UGM Bangun Kesetaraan Lewat ICSD

Dalam rangkaian konferensi dua tahunan tersebut juga menghadirkan pembicara utama lainnya yang berasal dari dalam dan luar negeri yaitu Prof Dr Manohar Pawar (Presiden ICSD dari Charles Sturt University, Australia), Prof James Herbert William (Arizona State University, United State of America), Prof Leila Patel (University of Johannesburg, South Afrika), Ir Sigit Reliantoro, M.Sc (Sekretaris Direktorat Jenderal Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Indonesia), Assoc- Prof David Androff (Arizona State University, United State of America), Sudarno Sumarto, Ph D (Tim Nasional TNP2K, Indonesia), dan Prof John Murphy (University of Melbourne, Australia).

Sedangkan peserta dan presenter dalam konferensi ini juga berasal dari 28 negara berbeda dan multielemen. Peserta dan presenter berasal dari kalangan akademis, praktisi dan entitias bisnis.

Dialog multielemen berskala internasional ini merupakan upaya yang dilakukan untuk menunjukan pentingnya kolaborasi antarelemen masyarakat untuk mencapai SDGs.

Hal ini seperti yang disampaikan oleh Prof Janianton Damanik, ketua pelaksana ICSD ke 21, dalam upaya untuk mengarusutamakan komitmen internasional SDGs ini diperlukan kolaborasi antarelemen seperti yang dilakukan dalam kegiatan ini. (*)

Penulis: Siti Umaiyah
Editor: Gaya Lufityanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved