Jawa

Bekraf Lirik Limbah Batu di Magelang Jadi Produk Kerajinan

Adi sendiri menekankan beberapa masalah yang mesti dipecahkan agar produk UMKM asal Magelang dapat berkualitas dan berdaya jual yang tinggi.

Bekraf Lirik Limbah Batu di Magelang Jadi Produk Kerajinan
istimewa
Wakil Bupati Magelang, Edi Cahyana, didampingi oleh, Staf Ahli Bekraf, Adi Nugroho, dan Ketua Dekranasda Kabupaten Magelang, Christanti Zaenal Arifin, saat meninjau stand UMKM binaan Bekraf di Pendopo drh Soepardi, Kota Mungkid, Jumat (19/7/2019). 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Rendika Ferri K

TRIBUNJOGJA.COM, MAGELANG - Limbah batu di Kabupaten Magelang bisa dilirik jadi produk kerajinan yang bernilai ekonomi tinggi.

Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) pun tertarik mengolah limbah tersebut.

Di samping jumlahnya yang melimpah, pengelolaan limbah batu ini juga dapat mengurangi pencemaran lingkungan.

Bank Sampah Gemah Ripah Badekan Bantul Tampung Beberapa Limbah B3

"Kita melihat limbah batu tersebut menggunung dan debunya pun kelihatan mencemari lingkungan. Limbahnya sama sekali tidak ada nilai. Orang yang mau tinggal ambil pakai truk dan tidak harus membayar. Jadi kami sangat tertarik untuk mengolah limbah ini," kata Staf Ahli Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf), Adi Nugraha, Jumat (19/7/2019), di sela pameran dan paparan hasil Bintek Bekraf di Magelang, di Pendopo drh Soepardi, Kota Mungkid, Magelang.

Pihaknya telah melakukan survey dan menemukan limbah batu ini banyak ditemukan di Kecamatan Muntilan.

Bekraf sendiri melihat adanya peluang dari limbah batu, untuk dapat dijadikan produk kerajinan yang bernilai ekonomi tinggi.

Menikmati Indahnya Hamparan Padang Batu Putih Sungai Oya Saat Musim Kemarau

"Kami mendapat masukan dari Pemerintah Daerah (Pemda) Magelang untuk membantu dalam mengolah limbah-limbah batu tersebut. Kami memang dua kali melakukan Bintek (bimbingan teknis) di Kabupaten Magelang dalam membantu UMKM, tetapi belum spesifik limbah batu. Untuk itu kami berkonsentrasi soal itu," ujar Adi.

Adi sendiri menekankan beberapa masalah yang mesti dipecahkan agar produk UMKM asal Magelang dapat berkualitas dan berdaya jual yang tinggi.

Diantaranya adalah masalah alat atau perlengkapan, dan yang tak kalah penting adalah pemasaran.

"Adanya alat, paling tidak mesin bor duduk, akan menambah presisi produk sehingga kualitasnya pun dapat bersaing. Masalah pemasaran, kita tidak bisa berharap mereka bisa memasarkan sendiri. Jadi pemasaran ini memang perlu dibantu, entah pemerintah atau lembaga-lembaga lain," ujarnya.

Dekranasda Kota Yogyakarta Persembahkan Dekoya Awards untuk Pelaku Kerajinan

Wakil Bupati Magelang, Edi Cahyana, mengatakan, UMKM di Kabupaten Magelang terus berkembang.

Saat ini saja sudah terdapat 160.000 unit usaha dari kerajinan, kuliner, dan lainnya.

Meski begitu banyak, tetapi sebagian besar UMKM masih belum tersentuh proses kreativitas dan inovasi.

"Kami berharap kedepan produk-produk ini bisa menjadi icon Kabupaten Magelang, mengingat dengan keberadaan Candi Borobudur sebagai salah satu daya tarik bagi wisatawan manca negara," pungkas Edi.(TRIBUNJOGJA.COM)

Penulis: rfk
Editor: Ari Nugroho
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved