Sleman
Pemeran Film ‘Dua Garis Biru’ Sapa Penggemar di JCM
Film ini sarat akan makna dan pesan moral bukan hanya bagi anak muda, tetapi juga bagi para orangtua dan masyarakat.
Penulis: Yosef Leon Pinsker | Editor: Gaya Lufityanti
TRIBUNJOGJA.COM - Sebagai bentuk apresiasi terhadap karya sineas tanah air, untuk yang kesekian kalinya, Jogja City Mall (JCM) mengadakan acara Meet and Greet.
Kali ini dengan menghadirkan Angga Yunanda dan Zara JKT48, dua pemeran utama dari film ‘Dua Garis Biru’ untuk menyapa para penggemarnya di atrium Jogja City Mall.
Acara Meet and Greet kali ini diadakan pada Kamis, (11/7 2019) pukul 15.00 WIB di kemudian dilanjutkan dengan Nonton Bareng bersama cast ‘Dua Garis Biru’ di bioskop XXI Jogja City pukul 16.00 WIB.
Ratusan penggemar antusias dan memadati lokasi acara.
• 5 Rekomendasi Mie Ayam di Jogja, dari yang Super Pedas sampai Buka Tengah Malam
‘Dua Garis Biru’ menceritakan kisah persahabatan dua siswa SMA, Bima dan Dara yang kemudian memutuskan untuk berpacaran.
Namun, indahnya masa-masa berpacaran tak berlangsung lama sampai akhirnya mereka harus menerima fakta bahwa Dara sedang hamil.
Kehamilan tak terencana ini menimbulkan berbagai masalah dan pertentangan.
Kini Bima dan Dara berusaha menjalani tanggung jawab atas pilihan mereka.
Mereka pikir mereka siap jadi dewasa untuk menghadapi segala konsekuensinya.
Namun, tentu keluguan mereka langsung diuji saat keluarga yang amat mencintai mereka tahu, lalu memaksa masuk dalam perjalanan pilihan mereka.
• Rayakan HUT ke-5 JCM Adakan Serangkaian Kegiatan
Film yang disutradarai oleh Ginatri S Noer, penulis naskah dari film Habibie & Ainun ini sempat menuai kontroversi, lantaran dinilai dapat menjerumuskan remaja ke arah yang tidak baik.
Meski demikian, terbukti bahwa film ini sarat akan makna dan pesan moral bukan hanya bagi anak muda, tetapi juga bagi para orangtua dan masyarakat.
‘Dua Garis Biru’ yang mulai tayang pada 11 Juli mendatang ternyata sudah ditulis sejak 9 tahun yang lalu.
“Saya mulai menggarap skenario ‘Dua Garis Biru’ ini di tahun 2010 hingga di satu titik memutuskan untuk berhenti proses menuliskannya. Mungkin itu bagian dari insting keibuan saya campur seniman saya. Saat itu, saya tak mengerti bagaimana menyelesaikan perjalanan dua karakter dan keluarganya dengan bijak. Termasuk, bagaimana nasib bayi yang dikandungnya dan yang jelas saya tak ingin film ini lahir prematur sehingga tak maksimal potensinya,” ungkap Ginatri S Noer melalui siaran resmi yang diterima Tribunjogja.com.
Seiring berjalannya waktu, sebagian orang beranggapan bahwa film ini adalah proyek yang tak jadi.
• JCM Sukses Hadirkan Kemeriahan dalam Wedding Expo 2019
Namun, Chand Parwez, yang kemudian menjadi produser ‘Dua Garis Biru’, dengan konsisten bertanya tentang perkembangan skenario hingga akhirnya di tahun 2018, Gita memberanikan diri untuk menyutradarainya.
Bagi Gita, film ini spesial bukan hanya karena menandai debutnya sebagai sutradara, tapi film ini juga menjadi surat cintanya kepada anak, orangtua, dan anggota keluarga yang sedang, atau pernah menghadapi kesalahan anggota keluarganya dan dalam proses memaafkan satu sama lain dalam perjalanannya untuk menjadi lebih baik lagi.
Namun di sisi lain, film ini adalah desakan keras untuk para pihak yang bertanggung jawab agar berupaya lebih serius mengurangi jumlah kesalahan fatal seperti kehamilan dini pada remaja Indonesia.
Kesalahan yang bisa berujung pada kematian ibu dan atau bayinya, menambah jumlah angka pelajar putus sekolah, lingkaran kemiskinan, bahkan kekerasan dalam rumah tangga karena ketidaksiapan pernikahan dini. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/pemeran-film-dua-garis-biru-sapa-penggemar-di-jcm.jpg)