Merajut Persatuan Nasional Paska Pemilu

Satu di antaranya adalah urgensi merajut kembali persatuan nasional yang diakui sedikit banyak terkoyak karena perbedaan pilihan.

Merajut Persatuan Nasional Paska Pemilu
KOMPAS.COM/KRISTIANTO PURNOMO
Hakim Konstitusi dalam sidang putusan sengketa Pilpres 2019 di Mahkamah Konstitusi 

TRIBUNJOGJA.COM - Pemilu 2019 tak pelak menyisakan sejumlah pekerjaan rumah. Satu di antaranya adalah urgensi merajut kembali persatuan nasional yang diakui sedikit banyak terkoyak terlebih karena perbedaan pilihan di pemilu capres dan cawapres.

Fenomena maraknya ujaran kebencian ( hate speech ), fitnah ( character assassination ) dan penyebaran kabar bohong ( hoax ) saat proses tahapan pemilu berlangsung tidak saja harus diakhiri namun juga membutuhkan upaya pemulihan berkelanjutan agar tidak merusak sendi-sendi persatuan nasional.

Dalam rangka itu Gerakan Persatuan Indonesia berencana menggelar diskusi publik bertema "Merajut Persatuan Nasional Paska Pemilu," menghadirkan narasumber sejumlah tokoh antara lain Dewan Pengarah Badan Pembinaan Idiologi Pancasila BPIP Prof. Mahfud MD, Senator DPD RI DIY Afnan Hadikusumo, Ketua Fraksi Partai Keadilan Sejahtera DPRD DIY Agus Sumartono dan Sekretaris Tim Kampanye Nasional (TKN) DIY John S. Keban.

Moderator diskusi publik Ketua Komisi Informasi Daerah DIY yang juga mantan anggota Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Sleman Hazwan Iskandar Jaya.

Diskusi publik dilaksanakan pada hari Sabtu 13 Juli 2019 pukul 14.00 - 18.00 di ruang Adipati lantai 6 D' Senopati Hotel Jl. Sultan Agung 40 Gondomanan Yogyakarta.

Acara gratis dan terbuka untuk umum. Peserta terbatas dan wajib melakukan pendaftaran melalui telpun 082221648488.

Peserta diskusi adalah perwakilan partai peserta Pemilu, tokoh masyarakat, akademisi, mahasiswa, pemerhati sosial politik, penggiat organisasi kepemudaan, seniman budayawan dan kalangan media massa.

Panitia diskusi, Widihasto Wasana Putra mengatakan, tujuan daripada diskusi publik ini adalah pertama mengajak seluruh komponen masyarakat kembali bersatu padu bergandengan tangan membangun persatuan Indonesia lebih kokoh lagi kedepan.

Kedua sebagai edukasi politik kepada masyarakat bahwa pemilu adalah sarana pelaksanaan mekanisme demokrasi yang secara reguler telah terlaksana secara konstitusional, jujur dan adil sejak Reformasi 1998.

Ketiga mengajak semua komponen bangsa untuk kembali fokus pada tujuan kebangsaan berdirinya NKRI sebagaimana amanat konstitusi UUD 1945 yakni melindungi segenap tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan turut serta memelihara perdamaian dunia berdasarkan keadilan sosial.

"Ke depan Gerakan Persatuan Indonesia bertekad terus melakukan gerakan-gerakan kebangsaan bersama semua komponen bangsa demi tegaknya NKRI berdasarkan Pancasila," katanya. (rls)

Editor: ribut raharjo
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved