Yogyakarta

Aktivitas Terus Menurun, Status Merapi Masih Waspada

Terkait dengan status Merapi, Hanik belum bisa memastikan. Sebab masih ada aktivitas guguran lava.

Penulis: Christi Mahatma Wardhani | Editor: Ari Nugroho
Twitter/@BPPTKG
Ilustrasi: Terjadi awanpanas guguran di Gunung Merapi tanggal 20 Juni 2019 pukul 09:17 WIB. Awanpanas guguran tercatat di seismogram dengan amplitudo 75 mm dan durasi 120 detik. Jarak luncur 1200 m ke arah hulu Kali Gendol. 

Laporan Reporter Tribun Jogja Christi Mahatma Wardhani

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Aktivitas Gunung Merapi mengalami penurunan.

Hal itu diungkapkan oleh Kepala BPPTKG, Hanik Humaida.

Ia menyebut produksi kubah lava saat ini sekitar 17ribu meter kubik.

Sejak 4 Mei pertumbuhan kubah lava per hari sekitar 200 meter kubik.

Mahasiswa UNY Ajak Anak-anak Belajar Menulis Buku Harian di Rumah Belajar Kreatif Kaki Gunung Merapi

Pertumbuhan tersebut dinilai menurun jika dibandingkan sebelumnya, sekitar 1.000 hingga 3.000 meter kubik per harinya.

Meski mengalami penurunan aktivitas,status Merapi masih Waspada.

"Aktivitas masih sama, malah cenderung menurun saat ini. Ya fluktuatif, tetapi relatif turun," katanya, Selasa (8/7/2019).

Ia menjelaskan saat ini guguran juga mengalami penurunan. Guguguran sehari sekitar 20 kali.

JIka dibandingkan sebelumnya, guguran bisa lebih dari 20 kali.

Awan panas pun terakhir keluar pada 1 Juli lalu, dengan jarakluncur sekitar 1.100 meter dari puncak.

"Guguran menurun juga. gempa terjadi juga karena adanya guguran. sementara Guguran sendiri merupakan material kubah lava yang menumpuk, juga dipengaurhi oleh gas," jelasnya.

Gunung Merapi Hari Ini, Teramati Tiga Kali Guguran Lava ke Hulu Kali Gendol

Terkait dengan status Merapi, Hanik belum bisa memastikan. Sebab masih ada aktivitas guguran lava.

Sejak 21 Mei 2018 lalu, Gunung Merapi dinyatakan Waspada atau Level II.

Hingga saat ini status Merapi juga masih Waspada.

Ia pun mengakui tidak mudah menetapkan status Merapi, sebab banyak hal yang diperhatikan.

Pihaknya pun tentu harus berkoordinasi dengan instansi terkait.

"Ya dilihat sisi positifnya saja. Dengan ada guguran lava, malah bisa menjadi daya tarik wisata. Banyak kok yang justru menikmati guguran lava, kalau gelap itu keluar merah-merah, itu lava. Malah juga bisa jadi sarana edukasi." (TRIBUNJOGJA.COM)

Sumber: Tribun Jogja
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved