Yogyakarta

Tashoora Menyuarakan Kritik Sosial Lewat Tembang, Dari Kasus Bu Dukuh Sampai Agni UGM

Berpartisipasi langsung dalam Prambanan Jazz Festival 2019, Tashoora mengaku sangat bersyukur dan bangga.

Tashoora Menyuarakan Kritik Sosial Lewat Tembang, Dari Kasus Bu Dukuh Sampai Agni UGM
TRIBUNJOGJA.COM / Hanif Suryo
Tashoora ditemui seusai tampil di Prambanan Jazz Festival 2019 di Komplek Taman Wisata Candi Prambanan, Jumat (5/7/2019) 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Grup musik asal Yogyakarta, Tashoora, menjadi salah satu penampil yang mencuri perhatian di hari pertama Prambanan Jazz Festival 2019 di Komplek Taman Wisata Candi Prambanan, Jumat (5/7/2019).

Berpartisipasi langsung dalam Prambanan Jazz Festival 2019, Tashoora mengaku sangat bersyukur dan bangga.

Pasalnya, mereka dapat berpartisipasi dan turut memajukan prestasi anak bangsa lewat musik yang mereka geluti.

Rubah di Selatan, Remi Panossian Trio dan Tashoora Sukses Memukau Penonton Ngayogjazz

"Seru banget, nervous sebenarnya karena ini kan international festival," ujar Dita, keyboardis sekaligus pemain akordeon Tashoora.

Tashoora sendiri adalah sebuah grup musik asal Kota Yogyakarta yang terdiri dari Danang Joedodarmo (Gitar, Vokal, Dita Permatas (Akordeon, Kibor, Vokal), Gusti Arirang (Bas, Vokal), Mahesa Santosa (Drum), Danu Wardhana (Violin, Vokal) dan Sasi Kirono (Gitar, Vokal).

Band yang memiliki warna progressive rock ini turut membawakan satu single terbarunya yang untuk pertama kalinya dibawakan, berjudul Distilasi.

Menariknya, karya musik yang ditembangkan Tashoora lantang menyurakan isu-isu kemasyarakatan.

New Years Party Gratis, Seven Sky Hadirkan Tashoora dan Hiburan Lain

"Ada tiga lagu baru yang kita bawakan di Prambanan Jazz Festival 2019, yaity Agni, Surya, dan Distilasi yang benar-benar perdana kita bawakan," imbuh gitaris Tashoora, Danang Joedodarmo.

Danang mengungkapkan, single terbarunya tersebut merupakan wujud keprihatinan sekaligus kritik sosial akan peristiwa penolakan warga Dusun Pandeyan, Desa Bangunharjo, Kecamatan Sewon, Bantul terhadap dukuh terpilih, Yuli Lestari (41), Mei 2019 lalu.

Sekadar informasi, penolakan Yuli sebagai kepala dukuh dilakukan oleh sebagian warga Dusun Pandeyan dengan beberapa alasan salah satunya karena Yuli seorang perempuan dan dikhawatirkan tidak bisa melayani masyarakat selama 24 jam penuh seperti kepala dukuh sebelumnya.

"Bahkan sampai ada spanduk yang bertuliskan 'Kami Terima Lurah Siapapun asal Bukan Perempuan, yes di Bantul, terjadi di Bantul. Ya, fanatisme buta itu ternyata masih ada sampai sekarang," ungkap Danang.

Tampil di Prambanan Jazz 2019, Ardhito Pramono Suguhkan Pesan Cinta untuk Generasi Milenial

Sedangkan lagu berjudul Agni, lanjut Danang diangkat dari kasus dugaan pelecehan seksual yang terjadi pada Agni (bukan nama sebenarnya) mahasiswi Universitas Gajah Mada saat menjalani kuliah kerja nyata yang berakhir dengan 'kesepakatan damai'.

"Lagu Agni diangkat dari dari kasus dugaan pelecehan seksual yang terjadi di kampus UGM, yang prosesnya cukup panjang dan setelah 18 bulan berakhir damai," jelas Danang.

Disinggung mengenai alasan dibalik mengangkat isu-isu tersebut sebagai tema lagu, Danang memiliki alasan tersendiri.

"Mau mengangkat lagu tentang cinta, tapi sedang tidak jatuh cinta saja," kelakarnya.(TRIBUNJOGJA.COM)

Penulis: R.Hanif Suryo Nugroho
Editor: Ari Nugroho
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved