Kisah Mbah Sarni, yang Masih Setia Membuat Gerabah di Usia 101 Tahun

Biasa dipanggil Mbah Sarni (101), warga Desa Ngunut Kabupaten Magetan Jawa Timur terlihat masih gesit membuat gerabah seharga Rp 1000

Kisah Mbah Sarni, yang Masih Setia Membuat Gerabah di Usia 101 Tahun
KOMPAS.com | Sukoco
Nenek Sarni, membuat gerabah merupakan pekerjaan dari mbah buyutnya 

Sambil bercerita, tangan kiri Mbah Sarni merapikan bentuk cobek dengan sebuah plastik pipih sehingga permukaan cobek lebih licin.

Selain membuat gerabah, Sarni juga mengaku menjual sendiri gerabah hasil karyanya berkelling desa hingga kota tetangga dengan menggunakan ontel.

Bahkan untuk berjualan keliling, Sarni mengaku harus menginap dari kampung ke kampung.

Kisah Mbah Atmo Wiyono, Perajin Sekaligus Penjaga Terakhir Dolanan Tradisional Anak dari Bantul

"Dulu keliling pakai sepeda ontel dari kampung ke kampung ke Pasar Magetan ke Pasar Plaosan.

Kalau jualan bisa empat hari sampai susunan gerabah di sepeda habis. Disusun tinggi itu gerabah di belakang sepeda,” ucapnya.

Meski telah menikah memiliki delapan anak, Sarni tetap setia menekuni pembuatan gerabah bahkan hingga semua anaknya menikah.

Saat ini, Sarni dibantu anak bungsunya Karniem (65) masih tetap setia mengayuh perbot (meja berputar untuk membentuk tanah liat) untuk membuat cobek.

“Biasanya jika bikin gerabah dari kecil, tidak bisa bertani. Kalau masak ya nempur (beli beras),” terangnya.

Sementara itu, Karniem, anak kandung Mbah Sarni yang juga membuat gerabah bercerita jika saat ini tidak ada yang anak muda minat untuk bekerja membuat gerabah.

Mbah Sudirman Guling-gulingan Saat Diterkam Buaya, Jurus Tusuk Mata Selamatkan Nyawanya

Hal tersebut berbeda saat masa ibu dan neneknya. Di desanya, pembuat gerabah hanyalah perempuan yang berusia tua.

Halaman
1234
Editor: mon
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved