Harga Emas Melonjak, Terkerek Isu Suku Bunga The Fed dan Perang Dagang

Harga emas mengalami kenaikan mencapai 1.400 dollar AS per ons. Angka tersebut merupakan level tertinggi sejak September 2013

Harga Emas Melonjak, Terkerek Isu Suku Bunga The Fed dan Perang Dagang
TRIBUNNEWS.COM/HERUDIN
Ilustrasi 

TRIBUNJOGJA.COM - Harga emas mengalami kenaikan mencapai 1.400 dollar AS per ons. Angka tersebut merupakan level tertinggi sejak September 2013. Diperkirakan, harga emas bisa naik hampir 10 persen selama tahun 2019.

Harga emas yang naik signifikan tentu saja berkat ekspektasi penurunan suku bunga yang digadang-gadang bakal dilakukan bank sentral AS, The Fed, bulan depan.

Harapan turunnya suku bunga telah mendorong dollar AS melemah sehingga harga emas cenderung melesat.

"Emas sedang terbakar," kata Kit Juckes, ahli strategi pendapatan tetap global di Societe Generale dikutip dari CNN, Senin (24/6/2019).

Drama lanjutan seputar pembicaraan perdagangan antara Amerika Serikat dan China di G20 juga membantu mendorong emas lebih tinggi.

Jika Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping mencapai kesepakatan pada pertemuan G20 minggu depan di Osaka, Jepang, harga emas akan terus naik.

"Terutama karena pasar tidak mengharapkan The Fed untuk melakukan apa pun yang akan mendorong dolar menguat," kata Juckes.

Kepala Investasi UBS Global Wealth Management Mark Haefele pun berharap The Fed bersikap dovish dan tercapainya kesepakatan dagang antara AS-China.

"Kami berharap The Fed bersikap dovish, tercapainya kesepakatan perdagangan AS-China, sehingga suku bunga AS lebih rendah mampu mendukung harga emas," kata Kepala Investasi UBS Global Wealth Management Mark Haefele.

Tingginya harga emas juga terdorong oleh ketegangan geopolitik dengan Iran setelah drone asal AS ditembak jauh oleh Pengawal Revolusi Iran minggu lalu.

Halaman
12
Editor: iwanoganapriansyah
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved