Yogyakarta

Flashmob Beksan Wanara Curi Perhatian di Uji Coba Semi Pedestrian Malioboro

Beksan Wanara atau tari kethekan itu merupakan tarian klasik keraton Yogyakarta namun menjadi terkesan ragam modern karena dipadu dengan street art.

Flashmob Beksan Wanara Curi Perhatian di Uji Coba Semi Pedestrian Malioboro
Istimewa
Pulung Jati Ronggomurti (28) dan Putra Jalu Pamungkas (24), mataya Keraton Yogyakarta yang terlibat dalam komposisi Flashmob Beksan Wanara di Jalan Malioboro, Selasa (18/6/2019) lalu. 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Tarian flashmob yang dilakukan sejumlah anak muda di Jalan Malioboro pada saat uji coba Pedestrian, Selasa (18/6/2019) lalu mengundang banyak perhatian.

Beksan Wanara atau tari kethekan itu merupakan tarian klasik keraton Yogyakarta namun menjadi terkesan ragam modern karena dipadu dengan street art.

TARIAN yang menyita perhatian para wisatawan dan pengunjung di Malioboro itu menuai banyak pujian.

Anak-anak muda yang terlibat di dalamnya tak hanya sekadar menari saja, lebih dari itu, mereka ingin melestarikan dan menanamkan kecintaan pada kesenian tradisional pada anak muda milenial.

Lewat Lomba Kreasi Seni Flashmob Jingle Pemilu, KPU Bantul Ajak Pemilih Pemula Gunakan Hak Pilihnya

Pulung Jati Ronggomurti nampak sumringah saat menceritakan proses kreatif dari tarian Kethekan yang menyita perhatian pengunjung di Jalan Malioboro ini.

Pulung adalah koreografer tarian street art bercampur klasik yang dibawakan secara kekinian ini.

“Untuk koreografi saya memang menghendaki membawa tradisi berupa ragam tari keraton kethekan. Tarian ini adalah tarian pakem dari Keraton dan ada unsur jogetan mataram. Namun, memang ada paduan street art yang saya komposisi ulang,” ujar Pulung saat ditemui Tribun Jogja, Kamis (20/6/2019).

Sultan: Gunungkidul Tak akan Mendapat Apa-apa jika Kurang Kreatif

Pulung yang merupakan mataya atau penari Keraton yang masuk sebagai anggota Kawedanan Hageng Punakawan (KHP) Krida Mardawa ini menyebut tarian tersebut melibatkan banyak penari.

Separuh diantaranya merupakan penari di Krida Mardawa, sebagian berasal dari siswa SMKI, mahasiswi ISI jurusan tari.

“Saya susun ulang komposisinya karena melibatkan penari banyak dengan arah hadap non konvensional tidak tapal kuda atau harus menghadap penonton,” kata alumnus jurusan tari klasik ISI tahun 2017 ini.

Upacara Tingkeban Sebagai Simbol Pelestarian Budaya Jawa

Halaman
123
Penulis: ais
Editor: Ari Nugroho
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved