Bisnis

Pakar Sebut Biaya Pelayanan ke Penderita Penyebab Defisit BPJS Kesehatan

Berdasarkan hasil audit Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan (BPKP) pada Mei lalu, diketahui BPJS Kesehatan mengalami defisit anggaran hingga sebes

Pakar Sebut Biaya Pelayanan ke Penderita Penyebab Defisit BPJS Kesehatan
internet
Logo BPJS Kesehatan 

TRIBUNJOGJA.COM - Pakar Kesehatan Publik dan Ketua Perkumpulan Ahli Manajemen Jaminan dan Asuransi Kesehatan Indonesia (PAMJAKI), dr. Rosa Christiana Ginting, Betr.med, MHP, HIA, AAK menilai, salah satu penyebab dari defisitnya anggaran Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan adalah akibat dari membengkaknya pembiayaan terhadap penyakit tidak menular yang katastropik seperti jantung, stroke, dan kanker.

Berdasarkan hasil audit Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan (BPKP) pada Mei lalu, diketahui BPJS Kesehatan mengalami defisit anggaran hingga sebesar Rp9,1 triliun.

Kondisi tersebut, ungkap Rosa ditengarai oleh besarnya biaya pelayanan kesehatan yang harus ditanggung akibat tingginya jumlah penduduk yang menderita penyakit tidak menular yang katastropik.

Selama 2018, BPJS Kesehatan tercatat telah mengeluarkan biaya senilai Rp20,4 trilliun untuk membiayai penyakit tersebut.

Dirut RSUD Wates : Selama Libur Lebaran, Pasien BPJS yang Dilayani di IGD hanya Kategori Darurat

“Melihat kondisi BPJS Kesehatan saat ini, kebijakan yang efektif sangat diperlukan untuk mengurangi angka perokok di Indonesia," sebut Rosa dalam keterangannya, Senin (17/6/2019).

Ia melihat, pemerintah sebaiknya segera melakukan penelitian dan kebijakan untuk menekan tingginya angka pembiayaan terhadap penderita penyakit tidak menular yang katastropik.

"Sekarang adalah waktu yang tepat bagi Indonesia untuk memulai penelitian lokal secara komprehensif dan berkualitas sebagai solusi alternatif untuk mengurangi angka perokok di Indonesia dan dampaknya terhadap beban anggaran kesehatan,” tambah Rosa.

Sementara, mantan Director Research Policy & Cooperation WHO, Tikki Pangestu mengatakan, bahwa pakar kesehatan dan dokter perlu lebih terbuka untuk menggunakan pendekatan lain demi menekan jumlah prevalensi perokok.

Termasuk pendekatan yang selama ini dilakukan dan sudah berhasil diimplementasikan oleh negara maju.

40 Persen Perokok Meninggal Karena Penyakit Paru

"Sebagai contoh, di Inggris prevalensi perokok dalam beberapa tahun terakhir turun secara drastis," katanya.

Tikki mengklaim, bahwa Electronic Nicotine Delivery System (ENDS) dapat membantu perokok yang ingin berhenti atau beralih ke produk alternatif.

"Tentunya selain dapat mengurangi jumlah penderita penyakit katastropik tentunya akan berimplikasi pada efektivitas penggunaan anggaran kesehatan oleh Pemerintah,” pungkasnya. (TRIBUNJOGJA.COM)

Penulis: Yosef Leon Pinsker
Editor: Ari Nugroho
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved