Ramadan

Mengenal Pondok Pesantren Mu'allimin, Ponpes Muhammadiyah Pertama di Indonesia

Mengenal Pondok Pesantren Mu'allimin, Ponpes Muhammadiyah Pertama di Indonesia

Mengenal Pondok Pesantren Mu'allimin, Ponpes Muhammadiyah Pertama di Indonesia
Istimewa
Unjuk kebolehan Tonti Mu'allimin di acara wisuda siswa kelas XII Pada 1 Mei 2019 kemarin. 

TRIBUNJOGJA.COM - Nama besar disandang oleh Pondok Pesantren Mu’allimin Muhammadiyah Yogyakarta sebagai pondok pesantren Muhammadiyah pertama di Indonesia.

Pondok Pesantren ini dibuat satu paket dengan Madrasah Mu'allimin Muhammadiyah Yogyakarta juga punya sejarah panjang sebagai salah satu lembaga pendidikan tertua di Indonesia.

Pondok Pesantren Mu’allimin Muhammadiyah Yogyakarta ini berlokasi di pusat kota Yogyakarta. Tepatnya di Jl S.Parman 68, Patangpuluhan, Kota Yogyakarta.

Satu kompleks dengan Madrasah Mu’allimin, area Madrah dan Pondok Pesantren nampak sangat luas dengan fasilitas belajar mengajar yang lengkap.

Ngabuburide Bersama Evalube dan Gila Motor, Beramal Sembari Memacu Roda Dua

Dalam sejarahnya, baik pondok pesantren dan madrasah didirikan langsung oleh pendiri Muhammadiyah itu sendiri, yakni KH Ahmad Dahlan pada tahun 1918.

Awal pendiriannya berdasar pada lembaga boarding school tertua di Indonesia bernama Al Qismul Arqa (1918-1920) sebagai jenjang lanjutan sekolah standar.

Baru pada pada tahun 1921, nama Al Qismul Arqa berubah menjadi Pondok Moehammadijah. Satu tahun kemudian berubah nama lagi menjadi Hoogere Moehammadijah School hingga pada tahun 1923 lalu Kweekschool Moehammadijah sampai tahun 1932 sebelum menjadi Madrasah Mu'allimin Muhammadiyah sampai sekarang.

Pondok Pesantren Mu’allimin dibentuk sebagai pendukung atas sistem long day school yang diterapkan di Madrasah.

Mengintip Koleksi Manuskrip Quran di Kadipaten Pakualaman Berusia 205 Tahun

Sistem ini memakai pola pengajaran lebih lama dari sekolah formal pada umumnya yang hanya sampai siang hari, yang memungkinan para siswa belajar di sekolah sepanjang hari.

“Pondok pesantren sebagai ‘asrama’ bagi siswa ini mendukung sistem full day school di Madrasah Mu’allimin yang punya visi dan tujuan besar sebagai institusi pendidikan Muhammadiyah tingkat menengah yang unggul” kata Humas Madrasah Mu’allimin Yogyakarta, Sarijan ditemui di kantornya belum lama ini.

Agar menghasilkan kader ulama, pemimpin, dan pendidik pembawa gerakan Muhammadiyah maka materi pondok pesantren dimasukkan selain kurikulum pemerintah. Lima kompetensi inti dari penerapan kurikulum kombinasi tersebut adalah kompetensi keilmuan, kepribadian, kecakapan, sosial kemanusiaan dan gerakan. (Tribunjogja Susilo Wahid Nugroho)

Penulis: sus
Editor: has
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved