Yogyakarta
Pemda DIY Punya PR Soal RTRW
Beberapa mekanisme pun harus ditempuh, misalnya melalui tim percepatan pembangunan atau melalui asek perekonomian, Bappeda dan OPD lain.
Penulis: Agung Ismiyanto | Editor: Ari Nugroho
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Pemda DIY menerima beberapa penawaran investasi untuk pengembangan aerotropolis bandara YIA.
Investor ini berasal dari dalam negeri dan luar negeri.
Namun, Pemerintah Provinsi DIY menyebut masih ada banyak Pekerjaan Rumah terkait penataan kawasan.
"Ada investor yang tertarik, dari BUMN ada Patrajasa kalau luar negeri ada Dubai dan Singapura, " jelas Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Satu Pintu DIY, Arif Hidayat, Kamis (16/5/2019).
• Pemprov DIY Tunggu Surat Resmi dari Setneg Soal Pengangkatan Hasto Jadi Kepala BKKBN
Arif menjelaskan, meski sudah ada investor yang tertarik, namun fungsi dan skema untuk investasinya juga masih belum jelas.
Dua fungsi ini apakah para investor ini sebagai pengelola kawasan atau sebagai investor murni.
"Untuk skemanya bisa kerjasama melalui bentuk konsorsium pemda juga masuk di situ, atau joint venture bentuk BUMD. Kami masih menunggu skema karena belum memberikan mapping itu," jelasnya.
• Puasa, Pemprov DIY Kurangi Jam Kerja PNS
Beberapa PR yang harus disiapkan agar bisa memenuhi investor adalah penataan planning wilayah.
Diantaranya adalah dengan rencana tata ruang dan wilayah (RTRW).
Untuk Perda RTRW ini sudah ada di provinsi, namun untuk Kabupaten Kulonprogo nanti tinggal menyelaraskan.
Berbicara soal aerotropolis, pihaknya juga menyiapkan sarana prasarana untuk mendukung penerbangan.
Saat ini baru ada satu penerbangan oleh satu maskapai, Citilink.
Sementara, untuk maskapai selanjutnya adalah Batik Air yang direncanakan akan masuk ke YIA.
"Untuk penerbangan luar negeri belum karena sarpras pendukungnya, " urainya.
Untuk investasi ini, maka Pemda pun harus menyelesaikan tata ruang, dan juga menyusuan desain skema kerjasama.
Beberapa mekanisme pun harus ditempuh, misalnya melalui tim percepatan pembangunan atau melalui asek perekonomian, Bappeda dan OPD lain.
• Raih WTP 8 Kali Berturut-turut, Pemda DIY Didorong Tingkatkan Kualitas LHP
"Untuk investasi ini butuh kesiapan Pemda baik DIY dan Kulonprogo dari segi pertanahan, ada kawasan strategis, hunian, bisnis dan ini bagian dari zonasi di aerotropolis," jelasnya.
Bupati Kulonprogo, Hasto Wardoyo menjelaskan, kawasan aerotropolis ini tidak terlalu mepet dari bandara dan tidak terlalu jauh.
Untuk payung hukum kawasan tersebut, pihaknya akan mengeluarkan payung hukum berupa Peraturan Bupati (Perbup) soal kawasan supaya kawasan bisa berkembang dan investor bisa masuk.
Untuk wacana aerotropolis yang menjadi konekting area di sekitar bandara, pihaknya akan mengembangkan di sekitar 30 kilometer ke arah utara.
Hal ini dikembangkan dengan bedah Menoreh. “Opsinya memang ke utara Bedah Menorah atau lewat Nanggulan ke utara. Kami wacanakan akan arahkan Bedah Menoreh,” urainya.
• Tahun Ini Pemkab Kulon Progo Fokus Pembebasan Lahan untuk Bedah Menoreh
Salah satu yang akan dikembangkan adalah destinasi wisata internasional berupa taman kerajaan nusantara.
Taman kerajaan nusantara ini akan dibangun di Girimulyo dan mirip dengan konsep taman mini Indonesia Indah (TMII).
Hanya nanti anjungannya berupa kerajaan di nusantara.
“Untuk membangun ini tidak cukup APBN dan APBD tapi juga melibatkan swasta. Salah satunya adalah nanti ada MoU dengan Hongkong sebagai international heritage,” urainya.
Agar kawasan di sekitar tersebut berkembang pihaknya pun tidak akan melakukan penggusuran.
Namun, akan mengembangkan model kerjasama dengan masyarakat.
Hal inilah yang nantinya akan mengembangkan perekonomian masyarakat.
“PR kami juga adalah langkah jangka menangah apa yang bisa dicreate murah, meriah, cepat. Misalnya, turis mendarat diberikan insentif ini adalah pemikiran kasar. Kami punya kampung homestay di lingkungan destinasi wisata, misalnya turis digratiskan menginap tetapi untuk makan bayar agar mereka tetap betah stay,” ujarnya. (TRIBUNJOGJA.COM)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/berita-yogyakarta_20180911_145553.jpg)