Ramadan 2019

Beginilah Suasana Bulan Puasa di Era Kolonial Belanda

meskipun Belanda saat itu masih memiliki kontrol terhadap sistem pemerintah Indonesia, akan tetapi umat Muslim di Indonesia masih diberikan keleluasaa

Beginilah Suasana Bulan Puasa di Era Kolonial Belanda
Wikimedia Common | Koleksi Tropenmuseum
Warga tengah mengambil ikan di kolam pada akhir bulan ramadan menjelang lebaran. Foto diambil antara tahun 1933 dan 1955. Lokasi tidak diketahui. 

Beginilah Suasana Bulan Puasa di Era Kolonial Belanda

TRIBUNJOGJA.com - Dosen Sejarah IAIN Surakarta, Martina Safitry, menggambarkan bagaimana suasana bulan puasa saat era kolonial Belanda di Indonesia. Menurut dia, meskipun Belanda saat itu masih memiliki kontrol terhadap sistem pemerintah Indonesia, akan tetapi umat Muslim di Indonesia masih diberikan keleluasaan dalam menjalankan ibadahnya sesuai dengan keyakinan.

Sama seperti masa sekarang, perdebatan mengenai penentuan awal Ramadhan juga telah ada sejak dulu kala. Pada masa sekarang, penentuan awal Ramadhan ditentukan dengan perhitungan hisab dan rukyat yang dipimpin Kementerian Agama. Namun, pada masa penjajahan pihak yang menentukan awal Ramadhan adalah Perhimpoenan Penghoelo dan Pegawainya (PPDP) atau lebih dikenal Hoofdbestuur.

Warga tengah mempersiapkan menyambut datangnya hari raya Idulfitri atau lebaran. Foto diambil tahun 1920. Lokasi tidak diketahui
Warga tengah mempersiapkan menyambut datangnya hari raya Idulfitri atau lebaran. Foto diambil tahun 1920. Lokasi tidak diketahui (Wikimedia Common | Koleksi Tropenmuseum)

Meski demikian, ternyata dua organisasi Islam terbesar di Indonesia. Muhammadiyah dan Nahdatul Ulama (NU) memiliki Hoffbestuur-nya sendiri. Lembaga itu juga memiliki peran besar terhadap penentuan awal Ramadhan.

"Kedua belah pihak menentukan perhitungan dengan caranya masing-masing," kata Martina mengawali diskusi yang digelar Rumah Budaya Kratonan bekerja sama dengan IAIN Surakarta pada Sabtu (11/5/2019) sore.

Kabar ini juga dipertegas dalam berita yang terekam dalam koran Berita Nahdlatul Ulama (BNO) edisi 1 November 1937 yang memuat maklumat Awal Ramadhan 1356 Hijriah. Selain penetapan melalui mekanisme tersebut, ternyata awal Ramadhan juga disambut masyarakat dengan bunyi-bunyian yang sangat keras.

"Jadi dengan meriam, petasan, mercon dan anak-anak bikin menggunakan pelepah pisang. Pokoknya bunyian yang keras-keras untuk menandakan awal Ramadhan," ucap Martina.

Warga tengah mengambil ikan di kolam pada akhir bulan ramadan menjelang lebaran. Foto diambil antara tahun 1933 dan 1955. Lokasi tidak diketahui.
Warga tengah mengambil ikan di kolam pada akhir bulan ramadan menjelang lebaran. Foto diambil antara tahun 1933 dan 1955. Lokasi tidak diketahui. (Wikimedia Common | Koleksi Tropenmuseum)

Tak hanya ada di Jawa, tradisi seperti ini juga ada di Sumatera, terutama Sumatera Utara yang terdengar tiga kali tembakan meriam menandai awalnya bulan Puasa.

Libur sekolah

Selain tradisi penentuan awal Ramadhan yang dikaitkan dengan bunyi-bunyian keras, ternyata pada masa penjajahan juga telah ada tradisi libur sekolah selama Ramadhan. Pada masa Kolonial Hindia Belanda, ada wacana untuk meliburkan sekolah selama Ramadhan. Langkah ini merupakan usulan dari Dr N Adriani selaku Penasehat Urusan Bumiputra.

Halaman
12
Editor: mon
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved