Lima Abad Runtuhnya Majapahit

Inilah Masa Kritis Majapahit Sebelum Akhirnya Terkubur Selama-lamanya

Tahun 1478, Raja Krtabhumi tewas saat Girindrawarddhana Dyah Ranawijaya dari Kadiri menggempur kedaton ibukota Majapahit di Trowulan

Penulis: Setya Krisna Sumargo | Editor: Mona Kriesdinar
Surya
Petugas BPCB Jatim sedang mengukur struktur bangunan yang diduga situs kuno berupa saluran air di Dusun Dukuhngarjo, Desa Dukuhngarjo, Kecamatan Jatirejo, Kabupaten Mojokerto, Kamis (6/12/2018) 

Siapa Dyah Ranawijaya, Raja Terakhir Majapahit yang Ditaklukkan Demak?

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA -  “Setelah Gajah Mada dan Hayam Wuruk meninggal, maka negara Majapahit seolah-olah terjun jatuh ke bawah dari tempat yang tinggi sekali, dengan tidak disambut angkatan muda yang diberi hati dan diberi darah seluas samudera.”

Demikian ditulis Dr Muhammad Yamin di bagian penutup buku “Gajah Mada: Pahlawan Persatuan Nusantara”, yang ditulisnya tahun 1945. Apa yang dikatakan tokoh kemerdekaan Indonesia itu benar adanya.

Baca artikel sebelumnya :

Gempuran Pati Unus dari Demak Memukul Habis Kekuatan Majapahit

Kejayaan Majapahit berangsur surut setelah di puncak kejayaan antara tahun 1350 hingga 1370 Masehi. Duet Raja Hayam Wuruk dan Patih Gajah Mada sukses menancapkan pengaruh dan kekuasaan Majapahit hingga Selat Malaka.

Tahun 1478, Raja Krtabhumi tewas saat Girindrawarddhana Dyah Ranawijaya dari Kadiri menggempur kedaton ibukota Majapahit di Trowulan. Inilah masa kritis Majapahit sebelum terkubur selama-lamanya oleh serbuan Pati Unus dari Demak.

Pertentangan Krtabhumi dan Ranawijaya ini jauh sebelumnya telah dimulai ketika meletus konflik antara Wikramawardhana dan Bhre Wirabhumi. Wikramawardhana adalah menantu Hayam Wuruk.

Ketika Bujangga Manik Melintasi Lapangan Bubat di Ibukota Majapahit

Terbuat dari Emas, Inilah Wujud Topeng Kematian Era Majapahit yang Pernah Ditemukan di Maguwoharjo

Ditemukan Reruntuhan Diduga Bekas Rumah Era Kerajaan Majapahit

Ia memperistri Kusumawardani, putri Hayam Wuruk dari permaisurinya yang ia jadikan pewaris tahta. Wikramawardana sendiri masih terhitung keponakan Hayam Wuruk, karena ia putra Bhre Pajang Rajasaduhiteswari, adik sang raja.

Sementara Bhre Wirabhumi lahir dari istri selir, yang tak berhak atas tahta. Ia hanya diberi wilayah di Blambangan (Banyuwangi). Serat Pararaton mencatat awal pertikaian pada tahun 1323 Saka (1401 Masehi) ini sebagai mula-mula perang Paregreg.

Wirabhumi akhirnya dikalahkan, tertangkap dan kemudian dihukum mati pada tahun 1405 Masehi. Ini benih konflik sangat berat yang akan berlanjut turun-temurun, membuat Majapahit kian lemah dan tercerai-berai.

Ahli sejarah Hasan Djafar dalam buku “Masa Akhir Majapahit (Komunitas Bambu, 2012)”, mencatat Prasasti Pamintihan bertarikh 1395 Saka (1473 M), menyebut Bhre Pandanalas atau Dyah Suraprabhawa, yang saat itu memerintah Majapahit dari Tumapel, disingkirkan.

Warga Temukan Situs Pemandian Kuno Diduga dari Zaman Majapahit

Trowulan, Metropolitan Majapahit dengan Tata Kelola Kota Mengagumkan

Bhre Krtabhumi merebut kekuasaan dari tangan Suraprabhawa pada tahun 1390 Saka (1468 M). Prasasti-prasasti Girindrawarddhana dari bertarikh 1408 Saka, menyebut upacara sradha memperingati 12 tahun wafatnya Paduka Bhatara ring Dahanapura.

Tokoh ini diidentifikasi sebagai Bhre Pandanalas alias Suraphrabawa. Dihitung mundur, Bhre Pandanalas ini meninggal pada tahun 1396 Saka setelah tersingkir dari Kedaton Tumapel dan tinggal di Daha.

Setelah meninggal, ia digantikan putranya, Girindrawarddhana Dyah Ranawijaya. Benih permusuhan berlanjut ke anak keturunan Majapahit. Ranawijaya menyusun kekuatan dan berusaha merebut Majapahit dari tangan Krtabhumi.

Ambisi itu terwujud tahun 1400 Saka (1478 Masehi). Krtabhumi ditumpas di kedatonnya, dan Ranawijaya mempersatukan kembali sisa-sisa Majapahit yang nyaris berantakan oleh konflik keluarga.

Suasana kanal di Ibu Kota Majapahit Trowulan dalam poster National Geographic Indonesia, September 2102. Jaringan kanal kuno ini mulai diketahui setelah adanya kajian foto udara dan endapan pada 1983. Kanal dibangun sebagai adaptasi musim warga Majapahit.(Sandy Solihin/NGI)
Suasana kanal di Ibu Kota Majapahit Trowulan dalam poster National Geographic Indonesia, September 2102. Jaringan kanal kuno ini mulai diketahui setelah adanya kajian foto udara dan endapan pada 1983. Kanal dibangun sebagai adaptasi musim warga Majapahit.(Sandy Solihin/NGI) (Kompas.com/NGI)
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved