International Visitor Leadership Program
Seperti Apakah Kuliner Khas Amerika?
Cheesesteak nyatanya adalah daging cincang yang dipanggang dan dimasukkan ke roti hoagie layaknya hot dog atau sandwich.
Penulis: Rento Ari Nugroho | Editor: Ari Nugroho
TRIBUNJOGJA.COM - Setelah memuaskan kerinduan akan makanan Nusantara di Philadelphia, rombongan International Visitor Leadership Program (IVLP) dari Indonesia juga beberapa kali mencicipi makanan setempat.
Berbicara tentang makanan Amerika, ada banyak hal unik.
Mengingat Amerika merupakan negara yang didirikan di benua baru dan warganya datang dari berbagai negara dan budaya, tentu ada pertemuan dengan pembawaan latar belakang masing-masing.
Hal ini juga terjadi di ranah kuliner.
Baca: Kucing-kucingan Mencari Gorengan di Amerika
Ketika hal ini ditanyakan pada seorang warga kota Sacramento di negara bagian California, pertanyaan tentang kuliner ini membuatnya sejenak berpikir.
"Agak susah menjawabnya, namun sepertinya setiap komunitas budaya memiliki kuliner khasnya. Misalnya orang Amerika Latin dengan Burrito atau Nachos, Italia dengan pizzanya," jawab perempuan yang tidak mau disebutkan namanya ini.
Sementara itu, dengan bantuan pemandu rombongan, Kae Kosasih dan Izzmyr Katoppo, rombongan berkesempatan menikmati kuliner "khas" di beberapa kota.
Misalnya saja Philadelphia yang terkenal dengan Cheesesteak.
Nama ini sendiri sempat menjadi tanda tanya.
Akankah sama dengan tren kuliner di Tanah Air dimana banyak makanan yang dipadukan dengan keju?
Namun ternyata, hari pertama di Philadelphia, kami berkesempatan mencicipi Philadelphia Cheesesteak ini.
Tidak seperti bayangan ketika memesan, Cheesesteak nyatanya adalah daging cincang yang dipanggang dan dimasukkan ke roti hoagie layaknya hot dog atau sandwich.
Baca: Makan Daging Merah dan Keju Bisa Sehatkan Jantung?
Rotinya yang berupa hoagie kering terasa agak gurih namun empuk.
Dagingnya terdiri dari daging rusuk sapi cincang yang bagi lidah orang Indonesia akan terasa lumayan hambar namun sebenarnya cukup gurih.
Sebagai tambahan daging adalah paprika hijau dan jamur.
Idealnya, Cheesesteak ini akan lebih enak bila bertemu dengan sambal.
Namun, lagi-lagi, tidak mudah menemukan sambal yang cukup pedas untuk lidah Indonesia.
Untungnya, seorang anggota rombongan, Imanuel membeli Sambal Sriracha yang lumayan pedas.
Philadelphia Cheesesteak ini dipadu sambal sriracha yang gurih-pedas menjadi paduan yang sempurna untuk mengisi perut setelah perjalanan selama sekitar dua jam dari Washington DC.
Bila diamati, Philadelphia Cheesesteak ini menjadi anggota keluarga makanan jenis Sandwich dan Hot Dog.
Maklum saja, sosok yang dianggap sebagai pelopornya, Pat dan Harry Olivieri merupakan seorang penjual Hot Dog.
Penemuan Philadelphia Cheesesteak berdasarkan penelurusan bermula ketika Pat dan Harry mencoba menyajikan steak cincang Italia dengan irisan roti gulung Italia pada sekitar 1930an.
Seorang Sopir Taksi yang kebetulan mampir tertarik dengan makanan baru tersebut dan membeli.
Baca: Menikmati Sandwich dan Burger Berkualitas di The Sandwich Company
Setelah mencicipinya, ia menyarankan Pat dan Harry untuk fokus menjual makanan baru tersebut.
Mereka pun kemudian menjual menu baru tersebut di stand hot dog mereka di kawasan Pasar Italia di selatan Philadelphia.
Popularitas menu tersebut kemudian melejit dan Pat pun membuka restorannya sendiri yang bernama Pat's King of Steaks di 1237 East Passyunk Avenue.
Restoran ini masih ada sampai sekarang.
Sayangnya, karena padatnya agenda, rombongan belum berkesempatan mengunjunginya.
Kepopuleran Philadelphia Cheseesteak membuatnya diakui sebagai bagian dari makanan khas Amerika Utara.
Oh iya, walaupun bernama Cheesesteak, namun Pat dan Harry awalnya tidak menambahkan keju di menunya.
Penambahan keju berjenis Provolone ini dipelopori oleh Joe Lorenza, seorang manajer restoran di Ridge Avenue.
Layaknya Nasi Padang yang di tempat asalnya tidak disebut Nasi Padang, demikian pula Philadelphia Cheesesteak.
Di Philadelphia, makanan ini disebut Cheesesteak saja.
Namun di luar, disebut Philadelphia Cheesesteak.
Deep Dish Pizza di Chicago
Pengaruh kuliner Italia di kuliner Amerika Utara lagi-lagi kami temukan di kota Chicago di negara bagian Illinois.
Kota terpadat ketiga di Amerika yang berada di tengah benua dan menghadap Danau Michigan ini kental dengan nuansa Italia di beberapa sudut kotanya.
Maklum saja, di kota ini juga banyak imigran dari Italia yang membawa serta kuliner nenek moyang mereka, tentunya dengan penyesuaian.
Satu contohnya adalah Pizza. Makanan khas italia ini mengalami penyesuaian di Chicago dengan perubahan bentuk yang lebih tebal dan besar.
Karena itu, Pizza ala Chicago ini disebut sebagai Deep Dish Pizza alias pizza berkulit tebal.
Rombongan IVLP dari Indonesia juga berkesempatan menikmati kuliner ini ketika tiba di Chicago.
Cuaca pada awal Oktober yang mulai dingin membuat perut terasa lapar, apalagi rombongan baru saja tiba dari penerbangan sekitar dua jam dari Philadelphia.
Pemandu pun mengantar rombongan ke Lou Malnati's Pizzeria, satu restoran Pizza yang terkenal dan memiliki sejarah panjang dari keberadaan Chicago Deep Dish Pizza.
Berjalan sekitar empat blok dari hotel, rombongan banyak melihat berbagai kafe dan restoran yang bergaya italia dengan menu khasnya.
Beberapa mobil keluaran negara yang terkenal dengan menara Pisanya itu juga banyak terparkir di kawasan kafe dan restoran tersebut.
Tiba di restoran, rombongan cukup kebingungan dengan banyaknya jenis pizza yang tersedia.
Oleh pemandu, kami yang berjumlah 11 orang disarankan memesan empat loyang saja mengingat pizza ini sangat tebal dan menyenangkan.
Tebalnya pizza ini juga membuat proses pemanggangan cukup lama.
Kami harus bersabar sekitar 30 menit sebelum pizza pertama diantarkan oleh waitres.
Begitu pizza pertama datang, kami terbelalak.
Bila di Indonesia, pizza yang populer umumnya setebal sekitar 1-2 cm, di sini bisa 5-7 cm.
Lebih pas bila kuliner ini disebut pai daripada pizza melihat ketebalan dan penyajiannya dalam loyang.
Hampir semua pizza yang dipesan ini bertaburkan keju mulai dari Parmesan hingga Mozarella.
Rasa asam tomat yang berkolaborasi dengan gurihnya keju segera menyerbu lidah ketika potongan pizza disantap.
Pizza yang cukup panas tersebut memiliki crust alias kulit yang tebal.
Dengan taburan cabai bubuk dan merica, panas dan pedas menggoyang lidah Indonesia yang kangen rasa pedas.
Kulit pizza terasa gurih dan empuk meski tebal dan terlihat agak menghitam karena proses memasak.
Sebagai keju asli italia, sang Chef mengobral tomat segar dan keju yang menjadikan rasanya gurih dan asam yang cukup kuat.
Besar dan tebalnya potongan pizza membuat satu orang sudah cukup kekenyangan hanya dengan menyantap 2-3 potong saja.
Meski menyajikan menu khas Italia, namun restoran Lou Manati's Pizzeria yang kami datangi kali ini bercorak modern dengan interior ala era industri.
Tempat duduk bangku tinggi dari kayu dan meja yang juga tinggi membuat rombongan duduk cukup nyaman.
Lou Manati's sendiri memiliki pengaruh dalam perkembangan deep Dish Pizza ini.
Maklum saja, Rudy Manati, ayah dari Lou Manati, merupakan chef yang awalnya bekerja di Uno Pizzeria.
Restoran ini dikenal sebagai pelopor Deep Dish Pizza.
Nah, usut punya usut ternyata Rudy Manati adalah orang yang mengkreasikan Deep Dish Pizza ini.
Sang anak yang mendapat banyak ilmu tentang pizza dari ayahnya kemudian membuka restoran sendiri pada Maret 1971 di Lincolnwood, Chicago.
'Restoran ini berkembang pesat hingga saat ini Lou Manati's memiliki sekitar 45 restoran di area Metropolitan Chicago dan satu restoran di Arizona.
Lou sendiri sejatinya telah meninggal pada 1978. Istri dan anaknya, Rick yang kemudian mewarisi bisnis ini dan mengembangkannya hingga seperti sekarang, menjadi satu dari beberapa rujukan kuliner Chicago.(TRIBUNJOGJA.COM / Rento Ari Nugroho).
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/seorang-juru-masak-sedang-membuat-cheeseesteak-di-kawasan-reading-terminal-market-di-philadelphia.jpg)