Menjadi Bidan dengan Penuh Ketulusan Hati

Naluri kemanusiaan Wati kembali teruji setelah membuka Praktik Mandiri Bidan (PMB) di daerah Madurejo, Prambanan, Kabupaten Sleman

ist
Bidan Kuswatiningsih 

BERMODAL ilmu dasar keperawatan yang didapat dari Sekolah Keperawatan SPK Muhammadiyah Cirebon, Jawa Barat, Kuswatiningsih memberanikan diri datang ke DI Yogyakarta untuk melanjutkan studi bidan di STIKES Aisyiah Yogyakarta pada tahun 1996.

Sedikit nekat kala itu, karena ia tak punya kerabat apalagi saudara di DIY.

Status Pegawai Tidak Tetap (PTT) yang pertama kali disandang perempuan yang akrab disapa Wati ini saat ditugaskan di Puskesmas Panggang I, yang berada di wilayah Kabupaten Gunungkidul.

Pada tahun 1997, daerah tersebut dikenal terpencil dengan akses jalan yang masih sulit dijangkau oleh kendaraan.

“Kalau mau jadi bidan desa berstatus PTT, memang harus mau ditempatkan di mana saja di wilayah DIY. Akhirnya, saya ditempatkan di Kabupaten Gunungkidul. Waktu itu, akses di sana masih sulit. Banyak kasus bunuh diri juga yang membuat saya sedikit takut. Belum lagi, jumlah tenaga kesehatan masih minim,” ujar Wati.

Di Kabupaten Gunungkidul, Wati juga harus bisa beradaptasi dengan kultur masyarakat yang masih mengagungkan sisi spiritual. Pengobatan orang sakit biasa dilakukan dengan melibatkan dukun desa.

Pengakuan Cindy Reporter Kompas TV yang Sita Perhatian Netizen, Tahu Viral Lihat Grup

Viral Video Pria Dipukuli Polisi Ternyata Bukan Harun Rasyid, Ini Sosoknya Menurut Polisi

Heboh Running Text SPBU Muncul Tulisan Hina Jokowi, Polisi Beri Penjelasan Ini

Kisah Pertapaan Mbah Fanani di Dieng yang Jadi Misteri, Disegani Warga Dianggap Punya Kekuatan

Sementara Wati, yang dilatih sebagai tenaga medis berdasar ilmu pengetahuan, wajib memakai tindakan sesuai prosedur.

Jalan tengahnya, Wati kerap mengkombinasikan pengobatan tradisional, spiritual, dan ilmu medis ketika sedang menangani pasien.

Saat membantu persalinan, misalnya, Wati yang memakai cara medis, bersama dukun desa memberi pengobatan kepada pasien tanpa mengesampingkan aspek kesehatan.

Empat tahun bertugas di Kabupaten Gunungkidul, Wati melanjutkan belajar demi mendapatkan ijazah D3 di STIKES Aisiyah sembari bertugas sebagai bidan di PKU Muhammadiyah Kotagede dan Klinik Amanah di Kabupaten Bantul.

Lagi-lagi, ia mengenang sedikit cerita ketika membantu banyak warga yang kala itu menjadi korban gempa tahun 2006.

Masih lekat di ingatan, pukul 06.00 pagi, ia sangat panik saat terjadi gempa. Ia keluar klinik sembari menggendong bayi dua bulan yang sedang dimandikan.

Ia sempat kembali memandikan bayi sebelum gempa kedua datang. Setelahnya, rumah-rumah sekitar klinik ambruk. Banyak warga yang jadi korban.

“Saya langsung membantu para warga dengan keterbatasan alat dan obat yang tak mencukupi karena saking banyaknya korban. Yang penting, mereka terlebih dahulu mendapat pengamanan darurat. Suami saya juga langsung membantu sebisanya, keliling menolong warga yang menjadi korban,” cerita Wati.

Naluri kemanusiaan Wati kembali teruji setelah membuka Praktik Mandiri Bidan (PMB) di daerah Madurejo, Prambanan, Kabupaten Sleman, sejak tahun 2006 hingga sekarang.

Kontur daerah sekitar tempat Wati praktik yang masih berupa perbukitan dan jauh dari pusat kota, kerap memunculkan cerita baru yang menguji ketulusannya.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved