Saat Hindia Belanda Takluk kepada Jepang, Kisah Dimulai Dari Bandung

Pertalian Frans dengan Bandung tampaknya cukup kuat lantaran ibunya dimakamkan di Pandu, beberapa tahun sebelum kedatangan Jepang.

Tayang:
Editor: ribut raharjo
Lieutenant R. J. Buchanan/Australian War Memorial
Keadaan serdadu Inggris dan Australia di salah satu kamp tawanan perang Jepang di Batavia. 

“Kami mencari-cari hingga horizon, namun tidak menemukan apapun kecuali bercak asap hitam sisa ledakan peluru penangkis serangan udara,” ungkap McDougall. “Lalu kami menyadari apa yang membuat pasukan itu panik. Peluru-peluru penangkis serangan udara itu meletus dan turun ke bawah seperti parasut-parasut hitam.”

Jika letusan penangkis serangan udara itu dapat melumpuhkan militer Belanda, demikian dalam benak jurnalis itu, bukan hal yang mengherankan jika serdadu Jepang dapat bergerak dengan mudah dan cepat.

McDougall menulis petualangannya tadi dalam Six Bells off Java: A Narrative of One Man's Miracle yang diterbitkan Charles Scribner's Sons, New York pada 1948. Buku lain karyanya berjudul By Eastern Windows terbit pada tahun berikutnya. Atas petualangan dan laporan pascaperangnya, McDougall menerima Nieman Fellowship di Harvard University dan juga nominasi Pulitzer Prize.

 Bijkerk dan McDougall adalah sebagian dari penyintas kapal “Pulau Bras”. Kapal itu berangkat dari Pelabuhan Ratu, namun ditenggelamkan Jepang pada 7 Maret 1942 di barat laut Pulau Christmas, Samudra Hindia. Perkiraan korban tenggelamnya Poelau Bras mencapai 240 orang, sebanyak 116 orang berhasil selamat dari maut karena sekoci. Selama tiga tahun lebih mereka mendekam terpisah di balik kawat berduri kamp tawanan perang di Sumatra.

Kendaraan lapis baja dan kendaraan perang lainnya milik militer Jepang tengah berpatroli di melintasi kawasan Harmoni pada 25 September 1945.
Kendaraan lapis baja dan kendaraan perang lainnya milik militer Jepang tengah berpatroli di melintasi kawasan Harmoni pada 25 September 1945. (Robert John Buchanan/Australia War Memorial)

Kesaksian Nio Joe Lan

“Sasoedanja Djepang berkoeasa di sini 6 minggoe lamanja, moelai dilakoeken penangkapan pada pemimpin-pemimpin dan journalist-journalist Tionghoa,” ungkap Nio Joe Lan. “Itoe koetika kira-kira djam 9 pagi pada itoe hari Minggu 26 April 1942 jang tida aken bisa terloepa.”

Nio (1904 -1973) merupakan seorang jurnalis yang aktif sebagai pengurus Tiong Hoa Hwe Koan. Karirnya bermula di majalah Penghiboer, berlanjut di surat kabar Keng Po dan harian Sin Po.

Nio, yang saat itu berusia 38 tahun, diciduk di rumahnya di Jakarta. Bersama warga Tionghoa laki-laki dari beberapa kota di Jawa, mereka menjadi tawanan Jepang. Awalnya, Nio dan warga Tionghoa lainnya ditempatkan di Bukit Duri, lalu dipindah ke Serang. Kamp terakhirnya adalah Tjimahi, bersama 9.000 warga Belanda.

“Djangan kata mengatahoei keadahan loear, liat orang loear sadja tida boleh!” Kehidupan dalam kamp memang membosankan, namun tampaknya penuh romansa. Selain kewajiban menanam sayur di kebun, beberapa orang berinisiatif membuat perpustakan, ceramah intelektual, hingga bermain alat musik bersama.

Nio dan warga Tionghoa lain dibebaskan pada 27 Agustus 1945. Nio bertimbang hati kepada keluarga Belanda yang meskipun bebas, mereka tak lagi memiliki rumah. “”Orang interneeran Tionghoa boleh dibilang ampir semoea masi ada poenja roemah, kemana marika bisa poelang.”

Catatan hariannya selama di kamp, diterbitkan dalam sebuah buku berjudul Dalem Tawanan Djepang (Boekit Doeri-Serang-Tjimahi): Penoetoeran Pengidoepan Interneeran Pada Djeman Pendoedoekan Djepang. Buku itu pertama kali diterbitkan oleh Lotus Company pada1946.

Bagaimana bisa warga Tionghoa yang lama menetap di Hindia Belanda turut menjadi tawanan perang? Jepang melakukan tindakan keras terhadap mereka yang dianggap pro-Chungking dan anti-Jepang. Di dalam tawanan itu termasuk para opsir Cina, pemuka warga pecinan, dan jurnalis—yang tampaknya tak pernah terbukti melakukan perlawanan anti-Jepang.

Kesaksian Satyawati Suleiman
Militer Jepang memasuki Batavia tatkala Satyawati Suleiman (1920-1988) masih menjadi mahasiswi. Satyawati dikenal sebagai perempuan pertama yang menyandang gelar ahli arkeologi di Indonesia. Kisah pengalamannya ketika awal masa pendudukan Jepang pernah terbit dalam jurnal Indonesia nomor 28 pada Oktober 1979, "The Last Days of Batavia".

Berbeda dengan nasib kebanyakan keluarga Belanda, kondisi Satyawati dan keluarganya tampaknya masih tenteram pada awal 1942. “Ibu saya menanam mentimun dan bunga matahari Meksiko,” ungkapnya, “dan, setelah Jepang tiba, kita bisa makan sayuran dan memotong bunga untuk mencerahkan rumah.”

Namun, beberapa bulan jelang militer Jepang masuk, perubahan yang tampak nyata adalah di kampusnya. Banyak profesor Belanda mengubah busananya dengan seragam Stadswacht dan Landwacht, yang merupakan bagian korps militer darurat di Hindia Belanda. “Jadi kami menghadiri kuliah yang diberikan oleh laki-laki berpenampilan pejuang perang,” ungkap Satyawati, “yang masuk ruangan dengan entakan sepatu bot dan dengan helm di tangan mereka.”

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved