UNY Mewisuda 1.010 Mahasiswa, Lulusan Tercepat 3 Tahun 5 Bulan

Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) akan mewisuda para mahasiswanya periode Februari di GOR UNY, Sabtu (23/2/2019). Total mahasiswa yang akan diwisuda

UNY Mewisuda 1.010 Mahasiswa, Lulusan Tercepat 3 Tahun 5 Bulan
tribunjogja/ sus
Mahasiswa UNY IP tertinggi (Dwi Novita Sari), lulus tercepat (Santa Permata) dan lulusan paling muda (Wiqoyatul Hikmah) yang akan diwisuda pada Sabtu (23/2/2019). 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYAKARTA - Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) akan mewisuda para mahasiswanya periode Februari di GOR UNY, Sabtu (23/2/2019). Total mahasiswa yang akan diwisuda 1.010 orang terdiri 9 orang Doktor (S3), 195 orang Program Magister (S2), 791 orang Sarjana (S1), dan 15 orang Program Diploma (D3).

Salah satu mahasiswa UNY jurusan Pendidikan Akuntansi Fakultas Ekonomi atas nama Dwi Novita Sari mencatatkan indeks prestasi tertinggi untuk jenjang S1 yaitu 3,92. Warga Soko, Bagelen, Purworejo, Jawa Tengah itupun menyebut, duduk paling depan saat mengikuti aktifitas perkuliahan jadi salah satu kunci keberhasilannya.

“Materi perkuliahan lebih jelas diterima dan lebih mudah mengingatnya. Saya juga suka belajar pada saat malam hari dan aktif bertanya pada dosen jika ada materi perkuliahan yang belum jelas. Selain itu, saya juga harus bisa mengatur waktu,” kata putri dari pasangan suami-istri Legiman dan Yatini tersebut.

Jika Novi mencatatkan namanya sebagai peraih IP terginggi, Santa Permata dari prodi Pendidikan Ekonomi Fakultas Ekonomi juga mengukir prestasi dengan menempuh pendidikan S1 dalam waktu 3 tahun 5 bulan. Salah satu kuncinya, adalah mempercepat pengerjaan skripsi sudah mulai dikerjakan pada semester 5.

Mahasiswa UNY IP tertinggi (Dwi Novita Sari), lulus tercepat (Santa Permata) dan lulusan paling muda (Wiqoyatul Hikmah) yang akan diwisuda pada Sabtu (23/2/2019).
Mahasiswa UNY IP tertinggi (Dwi Novita Sari), lulus tercepat (Santa Permata) dan lulusan paling muda (Wiqoyatul Hikmah) yang akan diwisuda pada Sabtu (23/2/2019). (tribunjogja/ sus)

Sementara itu, Wiqoyatul Hikmah dari prodi Pendidikan Ekonomi Fakultas Ekonomi menjadi lulusan termuda dengan meraih gelar sarjana dalam usia 20 tahun 6 bulan. Alumni MA Al Manar Sedan, Rembang tersebut diketahui sudah masuk SD pada usia 4 tahun dan selalu mendapatkan ranking 1 – 2 saat di bangku Madrasah Aliyah.

Rektor UNY, Sutrisna Wibawa pun berpesan kepada para wisudawan dan wisudawati agar senantiasa menyiapkan diri dalam menghadapi era banyak "gangguan" yang diakibatkan oleh perubahan yang makin sering terjadi dan harus disikapi dengan bijaksana agar mampu menanggapi tantangan zaman.

“Jadi tidak boleh terperangkap dengan cara pandang zaman old. Oleh karenanya, harus bergerak cepat untuk melakukan berbagai inovasi. Kita harus sudah berubah menjadi orang yang selalu memiliki kemampuan creativity, critical thinking, communication, dan collaboration (4C’s),” kata Sutrisna.

Lebih lanjut, Sutrisna juga berharap agar para mahasiswa lulusan UNY jangan terjebak dalam comfort zone (zona nyaman). Setiap lulusan justru harus melakukan learning zone dengan memahami ilmu baru, dengan mengobservasi, memahami, menseleksi, menjadikan hal baru menjadi bagian dari diri, melakukan perencanaan, eksekusi, dan evaluasi.

Wisudawan sebagai lulusan pendidikan tinggi juga harus selalu mengembangkan ilmu pengetahuan dan bersiap menghadapi tantangan besar yang terjadi di era Revolusi Industri 4.0 dan masyarakat 5.0saat ini. Dan senantiasa, tetap memperhatikan pentingnya penguasaan teknologi, teknologi digital, serta bahasa asing.

Dalam merespon perubahan tersebut, setiap lulusan harus memiliki mindsetyang terbuka terhadap perubahan, mindset yang adaptive, yang sering disebut dengan growth mindset yang selalu memandang pencapaian sebagai hasil usaha dan hasil belajar, dan bukan semata-mata karena adanya bakat dan takdir.

Manusia dengan growth mindset ini memandang dirinya dapat mencapai apapun sepanjang dia mau berusaha dan belajar sekeras mungkin. Sikap semacam ini tentun akan dapat menumbuhkan kemampuan beradaptasi dengan perubahan dan mampu belajar dan mencapai tujuan apapun yang kita kehendaki.

“Jangan berpegang pada fixed-mindset (biasanya sudah dalam zona nyaman), sehingga akan sulit untuk beradaptasi terhadap perubahan, karena sudah membuat batasan-batasan personal terkait dengan apa yang mereka dapat lakukan, dan apa yang tidak dapat mereka lakukan,” kata Sutrisna Wibawa. (*)

Penulis: sus
Editor: ose
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved