Pendidikan

Cornelis Lay Jadi Guru Besar Fisipol UGM

Cornelis Lay dikukuhkan menjadi guru besar Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada (UGM), Rabu (6/1/2019).

Cornelis Lay Jadi Guru Besar Fisipol UGM
TRIBUNJOGJA.COM / Christi Mahatma
Upacara pengukuhan Conelis Lay sebagai Guru Besar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gajah Mada di Balai Senat Kantor Pusat UGM, Rabu (6/2/2019) 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Christi Mahatma Wardhani

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Cornelis Lay dikukuhkan menjadi guru besar Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada (UGM), Rabu (6/1/2019).

Dari pantauan Tribunjogja.com, dalam pengukuhan tersebut hadir pula beberapa tokoh pemerintahan, seperti Mendagri Tjahjo Kumolo, Menhub Budi Karya, Mensesneg Pratikno, Gubernur Jateng Ganjar Pranowo, dan lain-lain.

Hadir pula tokoh politik PDIP Hasto Kristiyanto, Djarot Saiful Hidayat, dan beberapa tokoh PDIP lain.

Melalui pidatonya yang berjudul Jalan Ketiga Peran Intelektual : Konvergensi Kekuasaan dan Kemanusiaan, Cornelis mengatakan bahwa ia menemukan jalan ketiga di antara kedua biner.

Jalan pertama merupakan sikap memuja pada kekuasaan, sementara jalan kedua adalah sikap berpura-pura dan mengabaikan kekuasaan.

Baca: Mie Setan dan Iblis Hidangan Mie Super Pedas di Yogyakarta

"Jalan ketiga adalah hubungan timbal balik. Jalan timbal balik diperlukan karena cukup banyak intelektual yang tersesat dan sulit menemukan jalan kembali begitu berada di dalam lingkaran kekuasaan. Sebaliknya, banyak intelektual yang traumatis pada politik, sehingga memilih tidak masuk dalam lingkaran tersebut," katanya di Balai Senat Kantor Pusat UGM.

Ia menjelaskan untuk menempuh jalan ketiga bukanlah hal yang gampang.

Menurutnya banyak jebakan dari kombinasi dari kekuasaan dan kebutuhan pengakuan atas kontribusinya.

"Bagi saya, ujian terbesar seorang intelektual bukanlah pada kemampuan dan kesiapannya untuk memakai kekuasaan dan pelakunya, tetapi justru ketika ia bisa bersahabat dan menjadi bagian dari kekuasaan dan mampu menjaga kewarasan dan karakter dasar intelektual," jelasnya.

"Dengan serangkaian alasan ini, saya perlu menggarisbawahi bahwa jalan ketiga yang ditawarkan, menempatkan kemanusiaan sebagai motif pokoknya, menuntut kematangan, kepekaan dan kapasitas dalam menilai politik," sambungnya.

Baca: UGM Tercatat Jadi Kampus Terbaik di Indonesia Versi Webometric Periode Januari 2019

Sementara itu, Menteri Dalam Negeri, Tjahjo Kumolo mengatakan alternatif ketiga yang disampaikan Conelis menarik.

Menurutnya tata kelola pemerintahan harus menyatu.

Birokrasi kekuasaan tanpa sentuhan intelektual kurang bermakna, sementara keberhasilan birokrasi tanpa sentuhan media juga tidak bisa dirasakan oleh masyarakat.

"Yang paling penting adalah solusi ketiga dalam dimensi kemanusiaan, ilmu dan amal. Mari kita bangun pola pikir yang komprehensif integral dengan berbagai dimensi yang ada. Dalam aspek kemanusiaan jadi sesuatu yang tabu. Ada gengsi intelektual dan ada gengsi yang lain. Padahal suatu saat akan jadi masyarakat, kadang bisa jadi politisi, dan sekarang jadi bagian birokrasi," ujarnya. (*)

Penulis: Christi Mahatma Wardhani
Editor: Gaya Lufityanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved