Lukisan Babad Diponegoro
Tak Mudah Ajak 51 Seniman Ternama Membuat Lukisan Kisah Diponegoro
Pameran Sastra Rupa Gambar Babad Diponegoro akan digelar di Jogja Gallery, 1-14 Februari 2019. Ini rentang masa pameran yang cukup panjang
Penulis: Setya Krisna Sumargo | Editor: Mona Kriesdinar
TRIBUNJOGJA.com, YOGYA – Pameran Sastra Rupa Gambar Babad Diponegoro akan digelar di Jogja Gallery, 1-14 Februari 2019. Ini rentang masa pameran yang cukup panjang, dan diharapkan mampu menyedot perhatian publik.
Sebanyak 51 pelukis ternama dilibatkan, menghasilkan 50 karya. Mengapa tidak 51 karya lukisan yang dihasilkan? Kurator pameran, Dr Mikke Susanto menyebut, adegan terakhir dari 50 babak yang divisualkan, dikerjakan dua seniman lukis.
Adegan ke-50 itu menggambarkan momen ketika Pangeran Diponegoro berada di sebuah ruangan di Gedung Karesidenan Kedu di Magelang. Ia bertemu Jenderal De Kock, yang ternyata membuat tipu muslihat atas dirinya. Diponegoro akhirnya ditangkap.
Penghormatan Terakhir, Lukisan Babad Diponegoro Karya Gus Black yang Wah dan Sarat Makna
Membuat 50 karya lukis visualisasi sejarah yang ada teksnya, bukan persoalan mudah. Hal ini diakui Direktur Eksekutif Jogja Gallery, KRMT Indrokusumo, yang lebih dikenal dengan panggilan Mas Indro Kimpling Suseno.
“Ini tantangan besar buat kami semua. Mengajak pelukis papan atas Indonesia membuat karya lukis berdasar teks sejarah bukanlah hal biasa,” kata Mas Kimpling kepada Tribunjogja.com, Selasa (22/1/2019).
“Ternyata animo para pelukis yang dengan serius buka buku sejarah, bahkan laku napak tilas, menyulut semangat kami untuk gelaran pameran ini,” lanjutnya. Penyelenggara dan curator kemudian memilih 50 tema dan adegan yang diambil dari pupuh-pupuh Babad Diponegoro.
Inilah Enam Tantangan Galuh Tajimalela Melukis Gambar Babad Diponegoro
Ke-50 adegan ini hanya sedikit dari begitu banyak drama perjalanan dan perjuangan sulit yang dilalui Pangeran Diponegoro selama perang Jawa 1825-1830. Penyelenggara juga menarik mundur jauh kehidupan Diponegoro, bahkan sejak beberapa hari setelah dilahirkan.
Bagi penyelenggara pameran, visualisasi atas teks Babad Diponegoro juga memberikan semacam tendangan batin spiritual bagi semua yang terlibat. Bermunculan pertanyaan introspektif, tentang apa yang sudah dipersembahkan kepada bangsa dan negara.
“Diponegoro bertempur demi anak turunnya agar hidup lebih baik, sejahteran, makmur dan mandiri. Kitalah yang berkewajiban meneruskan cita-cita beliau,” kata Mas Kimpling mengingatkan.
Video Masjid Langgar Agung Magelang, Menyusuri Jejak Dakwah Pangeran Diponegoro
Pameran kali ini mengingat tema, isi, dan karyanya, bukanlah pameran biasa. “Ini sebuah pameran perenungan batin bagi kita untuk memahami sejarah kebangsaan kita. Masih banyak kisah heroik leluhur kita yang tidak kita pahami,” sambungnya.
Menurut kurator pameran, Dr Mikke Susanto, Babad Diponegoro memiliki nilai istimewa dalam khasanah sejarah bangsa Indonesia. Karya sastra yang ditulis langsung oleh Pangeran Diponegoro itu telah ditetapkan sebagai “Memory of The World” oleh UNESCO pada 2013.
Pangeran Diponegoro Tak Mau Dua Kali Seberangi Sungai Bogowonto, Alasannya Masih Jadi Misteri
Tidak banyak karya sastra sejarah yang mendapatkan pengakuan hebat seperti ini. Dua karya susastra Nusantara lain yang juga telah ditetapkan sebagai “Memory of The World” adalah naskah La Galigo dan Negara Krtagama.
Puluhan karya lukis Babad Diponegoro kini telah siap dipajang di arena pameran. Sebagian di antaranya sudah bisa dilihat publik karena dijadikan poster promosi event. Dilihat hasilnya, semua memang mengagumkan.
Ada begitu banyak drama dengan visualisasi yang khas pelukisnya, dengan warna dan corak lukisan yang beragam. Ada yang bergaya impresionis, banyak yang realis, dan ada sebagian yang simbolik.
Ada yang menampilkan sosok Pangeran Diponegoro, ada yang sama sekali tidak menghadirkan tokoh itu dalam lukisan. Pelukis Robi Fatoni, memilih menampilkan sosok lima pahlawan yang tercatat melakukan serangan berani mati ke kubu lawan.
Serangan senyap itu menewaskan seorang kapiten VOC di pos pertahanan mereka di Sidhatan, Tangkisan, Kulonprogo. Lima sosok yang divisualkan itu terdiri Sadika, Gadhing, Asnawi,Jayeng Magada, dan Sabuk Lumpang.
Bersenjatakan tombak, lima petempur Diponegoro itu merayapi malam, menyusup ke pemondokan lawan, dan membunuh sang kapiten pemimpin pasukan musuh. Kisah itu dicatat Diponegoro dan dimasukkan dalam pupuh-pupuh babad yang ditulisnya.
Masih banyak kisah-kisah dramatis dalam peperangan yang dituangkan para pelukis dalam karyanya. Pelukis epik perang Suraji, akan menuangkan imajinasi dan teks sejarah pertempuran pasukan Diponegoro di Siluk, Imogiri.
Karya lain yang juga menakjubkan adalah lukisan saat Diponegoro muncul di masjid Pajimatan Imogiri, hasil goresan kanvas oleh Deddy PAW. Masjid di lukisan ini sama persis dengan masjid yang sekarang masih ada di kawasan makam raja-raja di Imogiri.
Gaya lukisan realis, namun ada keunikan bersifat simbolik yang hendak disampaikan pelukisnya. Yaitu penggambaran pohon dan buah apel yang menghiasi latar depan adegan di Masjid Pajimatan Imogiri ini. Apa maksud dan maknanya?
Jawabannya akan muncul dari sang senima di pameran nanti. Satu lagi karya fantastik dihadirkan pelukis Camelia Mitasari Hasibuan. Mengambarkan saat Diponegoro melintasi kepulan asap mesiu ketika pecah Geger Spei (Geger Sepoy/Spehi) di Keraton Yogyakarta.
Visualisasinya nyaris serba gelap. Diponegoro dan dua pembantu terdekatnya berjalan mengenakan baju Jawa warga hitam dengan kain jarik batik. Di latar belakang, benteng dan bastion keraton digulung asap hitam tebal.(Tribunjogja.com/xna)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/pameran-babad-diponegoro-di-jogja-gallery_1.jpg)