Jawa

Delapan Kasus DBD di Awal Tahun 2019 di Magelang

Dinas Kesehatan Kabupaten Magelang mencatat terdapat delapan kasus penyakit Demam Berdarah (DBD) yang terjadi selama awal Januari 2019 ini.

Delapan Kasus DBD di Awal Tahun 2019 di Magelang
AFP PHOTO/MARVIN RECINOS
Nyamuk Aedes Aegypti. 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Rendika Ferri K

TRIBUNJOGJA.COM, MAGELANG - Dinas Kesehatan Kabupaten Magelang mencatat terdapat delapan kasus penyakit Demam Berdarah (DBD) yang terjadi selama awal Januari 2019 ini.

Penyakit DBD ini terjadi di dua kecamatan di Bandongan dan Mertoyudan.

"Kami menerima laporan ada delapan kasus demam berdarah selama bulan Januari 2019 ini, terjadi di dua kecamatan, Bandongan dan Mertoyudan. Tidak ada korban meninggal," ujar Kepala Bidang Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kabupaten Magelang, Sunaryo pada Tribunjogja.com, Selasa (22/1/2019).

Wilayah yang terkena DBD, yakni di Kecamatan Mertoyudan yakni Dusun Gaten, Desa Bondowoso; Dusun Manggoran, Desa Bondowoso; dan Dusun Seneng, Desa Banyurojo.

Baca: Lebarkan Sayap, Naavagreen Akan Buka Cabang Baru di Bintaro dan Jambi

Di Kecamatan Bandongan, DBD menjangkiti wilayah Dusun Jelapan, Desa Sidorejo.

Korban DBD ini di wilayah Kabupaten Magelang sendiri telah mengalami penurunan yang sangat signifikan sejak dua tahun belakangan terakhir.

Pasalnya, di tahun 2016-2017 pemberian fogging bisa mencapai lebih dari 50 kali. Namun pada tahun 2018 sudah menurun dan hanya mencapai 28 kali saja.

"Untuk tahun 2018 kemarin, hanya ada satu korban meninggal dunia karena DB yakni di wilayah Muntilan. Dan tahun ini kami akan bekerja keras agar tidak ada lagi korban jiwa di wilayah Kabupaten Magelang tentunya," kata Sunaryo.

Baca: 73 Kasus DBD di Yogyakarta hingga Akhir Januari 2019

Atas laporan ini, pihaknya langsung melakukan penanganan dengan melakukan pengasapan atau fogging di wilayah tersebut.

"Memang benar sudah ada laporan adanya warga yang terkena demam berdarah / DB di empat tempat. Namun demikian, kami langsung bergerak cepat untuk memerintahkan petugas termasuk puskesmas terkait untuk memberikan fogging di wilayah tersebut," terang Sunaryo.

Upaya yang dilakukan untuk menekan penyakit DBD ini dengan pencegahan perkembangan nyamuk Aedes Aegypti ini.

Mulai dari sosialisasi kepada masyarakat dan membina Juru Pemantau Jentik (Jumantik) bagi setiap kepala keluarga.

"Setiap tahunnya kita selalu rutin untuk memberikan sosialisasi kepada warga masyarakat. Seperti program 3M (menguras, menutup, dan mengubur kaleng-kaleng bekas), program Jumantik, dimana setiap kepala keluarga harus bertanggung jawab kebersihan di rumahnya masing-masing agar bebas dari jentik-jentik nyamuk," jelas Sunaryo.(*)

Penulis: rfk
Editor: Gaya Lufityanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved