Lukisan Babad Diponegoro Bakal Menghebohkan, Pameran Akbarnya Siap Digelar di Jogja Gallery
Semua lukisan yang dipamerkan berkisah tentang drama kehidupan Pangeran Diponegoro.
Penulis: Setya Krisna Sumargo | Editor: Muhammad Fatoni
“Saat disketsa itu Diponegoro sedang sakit malaria, sehingga wajahnya terlihat kurus, pipi cekung dengan tulang pipinya menonjol,” katanya. Karena memang tidak ada foto yang bisa menunjukkan wajah sahih sang pangeran, soal visualisasi wajah para pelukis diberi keleluasan berimajinasi.
Kedua, soal penampilan sosok, kurator pameran memberi kebebasan kepada para pelukis. Heterogenitas penggambaran akan menjadi ciri dari semua karya lukis yang dipamerkan.
“Selama ini, penampilan sosok Diponegoro terkesan homogen. Orba ikut andil,” kata Mikke.
Secara umum, di benak masyarakat, Pangeran Diponegoro digambarkan sosok gagah, menunggang kuda dan mengenakan jubah yang berkibar-kibar.
“Nanti kita akan lihat Diponegoro dalam penampilan lain, sebagai kanak-kanak, semasa pemuda, dan dia bangsawan Jawa,” lanjutnya.
Visualisasi sosok yang bermacam-macam (heterogen) ini menjadi catatan ketiga dari sang kurator, dan diharapkan bisa memunculkan sisi-sisi manusiawi Pangeran Diponegoro, sebagai manusia Jawa.
Masyarakat diharapkan juga bisa mendapat pengetahuan baru tentang sisi lain pahlawan nasional ini.
Mikke memberi bocoran, salah satu karya lukis mungkin akan memicu kehebohan karena visualisasi yang ditampilkan berdasarkan imajinasi sosok oleh sang pelukis. Menurut Mikke, karya ini menampilkan gaya dekonstruksi simbolik.
“Karya ini sarat pesan, dan benar-benar pas dengan konteks saat ini,” kata Mikke sembari menyodorkan foto karya dimaksud. Tribunjogja.com yang melihat lukisan itu, sekilas saja langsung terkejut. Karya lukisan ini benar-benar berpotensi viral dan memicu kehebohan.
“Nanti kita lihat bagaimana reaksi publik saat pameran dibuka,” sambung Mikke sembari tertawa.
Mikke menekankan, tajuk event ini adalah Pameran Sastra Rupa Gambar Babad Diponegoro. Gagasan awal datang dari Paguyuban Trah Pangeran Diponegoro (Patra Padi).
Gayung bersambut oleh Jogja Gallery, sebagai penyelenggara sekaligus tuan rumah pameran.
Mikke Susanto sebagai kurator mengakui tahap paling sulit pada proses awalnya adalah memilih pelukis yang tepat dan sesuai dengan adegan yang ditetapkan.
Ada sejumlah syarat dasar yang harus dipenuhi, karena itu tidak semua seniman lukis bisa dilibatkan dalam event bersejarah ini.
Setelah terpilih 51 pelukis, masing-masing diberi tema sesuai spesialisasi, gaya, dan corak karya lukisnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/karya-lukis-cat-air-galuh-tajimalela.jpg)