Inilah Enam Tantangan Galuh Tajimalela Melukis Gambar Babad Diponegoro
Lukisan itu menceritakan momen saat Pangeran Diponegoro berpamitan kepada ibundanya untuk melanjutkan perjuangan lewat perang
Penulis: Setya Krisna Sumargo | Editor: Muhammad Fatoni
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA – Salah satu karya lukis dari pupuh Babad Diponegoro menjadi ilustrasi poster promosi Pameran Sastra Rupa Gambar Babad Diponegoro.
Lukisan itu karya Galuh Tajimalela, spesialis cat air yang tinggal di Jakarta ini.
Karya lukis rekonstruksi realis di atas kertas ini sangat mengagumkan.
Belum diketahui apa judul resminya di pameran, namun sang pelukis memberi judul “The Last Meeting With His Mother” di postingan akun media sosialnya.
Lukisan itu menceritakan momen saat Pangeran Diponegoro berpamitan kepada ibundanya untuk melanjutkan perjuangan lewat perang.
Ada tiga sosok lain dalam adegan ini, yaitu Raden Mas Mangunkusumo dan dua putri Diponegoro.
Sembari duduk di kursi kayu yang kelihatan tua, sang ibu menangkupkan kedua telapak tangan ke pipi putranya yang bersimpuh di hadapannya.
Sementara Raden Mas Mangunkusumo berdiri di belakang, menangkupkan kedua tangannya, “ngapurancang”.
Dua gadis di belakang duduk menundukkan kepala, salah seorangnya menyandarkan kepala sembari memegang lengan kakak atau adiknya.
Suasana kesedihan benar-benar tertangkap dari goresan kuas Galuh Tajimalela ini.
“Menafsirkan teks sejarah untuk dituangkan dalam bentuk visual mempunyai beban sendiri,” aku Galuh Tajimalela kepada Tribunjogja.com, Jumat (18/1/2019) pagi ini. Ia lalu membeberkan sekurangnya enam fakta tantangan yang harus ia hadapi.
Pertama soal akurasi data. “Modal imajinasi saja rasanya tidak cukup karena teks sejarah selalu berkaitan dengan akurasi data,” katanya.
Beruntung sejarah Pangeran Diponegoro ini telah ditulis secara lengkap oleh Peter Carey.
Galuh Tajimalela kerap berdiskusi dengan ahli sejarah asal Skotlandia yang sudah tiga dekade menekuni penelitian dan penulisan riwayat Diponegoro ini.
Tantangan berikutnya soal pengadeganan. “Membuat pertemuan Diponegoro dengan ibundanya supaya drama, ini tantangan berat,” lanjutnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/penulis-tribunjogjacom-bersama-galuh-tajimalela.jpg)