Travel

Pasar Kebon Empring Piyungan Bantul Tawarkan Wisata Keluarga Murah

Pasar Kebon Emprig menghadirkan paduan antara kuliner dan wisata alam Wisata yang terletak di Bintaran Wetan, Srimulyo, Piyungan, Bantul

Penulis: Hanin Fitria | Editor: Iwan Al Khasni
IST
Sejumlah warga membeli makanan dan menikmati suasana alami di Pasar Kebon Empring di Bintaran Wetan, Srimulyo, Piyungan, Bantul, Sabtu (11/8/2018). 

TRIBUNJOGJA.COM - Pasar Kebon Emprig menghadirkan paduan antara kuliner dan wisata alam.

Wisata yang terletak di Bintaran Wetan, Srimulyo, Piyungan, Bantul tersebut juga menyuguhkan wisata keluarga yang bisa dibilang murah.

Di Pasar Kebon Empring pengunjung dapat menikmati berbagai macam kuliner yang disediakan dan juga bisa bermain air di sungai.

Menariknya saat menyantap kuliner, pengunjung akan dimanjakan dengan pemandangan dari rimbunnya kebun bambu dan gemercik suara air di sungai.

Pengunjung juga dapat bermain permainan tradisional yang disediakan seperti egrang, bakiak, ayunan, jungkat-jungkit dan lain-lain.

Untuk memasuki Pasar Kebon Empring, pengunjung tidak dipungut biaya.

Selain itu tarif parkir di wisata tersebut pun bersifat sukarela.

Harga makanan yang ditawarkan juga cukup murah yaitu berkisar antara Rp 2.500 hingga Rp 10.000.

Dilansir Tribunjogja.com melalui akun Facebook Kota Jogja makanan yang ditawarkan seperti soto dan es jeruk dibanderol Rp 10.000, sego wiwit dibanderol Rp 2.500 dan es
cendol taper ketan dibanderol Rp 5.000.

Catatan Tribunjogja.com, Salah satu Pengelola Pasar Kebon Empring mengatakan, tempat tersebut mulai dibuat di awal Bulan Puasa sekitar pertengahan Mei lalu.

Menurut dia, Pasar Kebon Empring sebenarnya adalah proyek alternatif setelah ide pertama untuk mengembangkan wisata Bintaran Wetan sulit terealisasi.

“Awalnya kita mau buat rumah landak, lorong macan, tanaman dan perpustakaan hutan di Bukit Berlian di samping sungai. Tapi tidak ada biaya. Waktu itu musim hujan, sulit terealisasi. Lalu kita beralih membuat tempat wisata yang murah tapi tetap bisa dinikmati masyarakat,” kata Titik.

Walhasil, lahan kosong di pinggir Kali Gawe yang sebelumnya hanya kebun kosong penuh dahan bambu kering disulap menjadi tempat yang bersih, sejuk dan nyaman.

Konsep besarnya adalah pasar tradisional yang menjadi tempat transaksi jual beli dengan fokus menjual kuliner tradisional.

Nuansa tradisional ini, menurut Titik benar-benar dijaga, meskipun dari kanan-kiri banyak yang meminta tempat tersebut diberi sentuhan warna-warni.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved