Pasukan Hamas Ciduk 45 Kolaborator Israel di Jalur Gaza
Sekurangnya 45 orang warga Palestina diciduk pasukan Hamas di Jalur Gaza sesudah insiden November 2018 di Khan Younis
Penulis: Setya Krisna Sumargo | Editor: Mona Kriesdinar
TRIBUNJOGJA.COM, JALUR GAZA – Sekurangnya 45 orang warga Palestina diciduk pasukan Hamas di Jalur Gaza sesudah insiden November 2018 di Khan Younis.
Mereka dituduh jadi kolaborator Israel, direkrut jadi agen mata-mata pemerintah Zionis itu, yang memicu insiden berdarah pada 11 November 2018.
Rekaman Mencekam Teriakan Pilot Israel Saat Kanopi Jet Tempur F-15 Tiba-tiba Terlepas di Udara
"Badan keamanan dapat menangkap 45 agen setelah insiden keamanan di timur Khan Yunis November lalu dan mereka sedang diselidiki," kata juru bicara Kementerian Dalam Negeri Hamas, Iyad al-Bozum, dikutip Russia Today, Rabu (9/1/2019).
Ia tidak menjelaskan apakah mereka yang ditahan memiliki peran langsung terkait serangan pasukan komando Israel ke Jalur Gaza Selatan pada 11 November 2018.
Israel Punya Lima Senjata Paling Mematikan, Ada yang Mampu Tembakkan 600 Amunisi per Menit
Orang-orang yang ditangkap yang diduga agen-agen Israel dilaporkan telah direkrut oleh Israel melalui telepon dan media social. Mereka juga kadang direkrut lewat upaya pemerasan.
Meski Hamas telah berhasil menangkap banyak mata-mata" selama bertahun-tahun, Israel terus merekrut agen-agen Palestina untuk membantu mereka melakukan kejahatan terhadap rakyat Palestina.
Misi Israel Defence Forces (IDF) yang gagal di Khan Yunis menewaskan seorang komandan Hamas. Di pihak Israel, seorang Letnan Kolonel, pemimpin pasukan komando juga terbunuh.
Agen Israel Menyusup ke Jalur Gaza. Operasi Rahasia Terbongkar, Satu Perwira Tewas
Operasi itu memicu baku tembak dengan pasukan Hamas, dan serangan udara bertubi-tubi dari militer Israel. Nyaris meningkat jadi perang besar antara Hamas di Jalur Gaza dan Israel, sebelum gencatan senjata tercapai.
Hamas dan Gerakan Jihad Islam di Palestina meluncurkan lebih dari 400 roket dan peluru Meriam Israel selatan. Intelijen Mesir akhirnya ikut campur tangan dan jadi penengah.
Perdana Menteri Israel Benyamin Netanyahu akhirnya menyepakati gencatan senjata, menghentikan serangan ke Jalur Gaza. Keputusan ini memicu pengunduran diri Menteri Pertahanan Israel, Avigdor Lieberman.
Lihat, Inilah Cukur Rambut Paling Ekstrem di Jalur Gaza! Kamu Berani?
Lieberman menolak perjanjian gencatan senjata yang ditengahi Mesir. Ia menuduh keputusan Netanyahu itu tidak patriotik, dan melukai para prajurit Israel yang mempertaruhkan nyawanya untuk melindungi bangsa dan negaranya.
Diwartakan Tribunjogja.com beberapa waktu lalu, 11 November 2018, pasukan komando Israel menggelar serbuan rahasia di Khan Younis, Jalur Gaza.
Seorang perwira Israel berusia 41 tahun tewas dalam operasi ini, sementara tujuh warga Palestina terbunuh dalam baku tembak.
Media Israel, Haaretz.com, Kamis (6/12/2018) membeber apa yang terjadi di balik operasi rahasia yang berakhir dengan kegagalan ini.
Plot diawali rencana membekuk sejumlah tokoh Hamas yang masuk daftar buruan pasukan keamanan Israel.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/serangan-udara-israel-dilancarkan-ke-15-titik-strategis-milik-hamas.jpg)