Underpass Kentungan

Pembangunan Underpass Kentungan, Begini Respons Warga Sekitar

Pembangunan proyek underpass Kentungan akan mulai dikerjakan pada 14 Januari mendatang.

Editor: Ari Nugroho
TRIBUNJOGJA.COM / Josef Leon Pinsker
Suasana lalu lintas di persimpangan Kentungan, Kamis (3/1/2019) sore. 

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Pembangunan proyek underpass Kentungan akan mulai dikerjakan pada 14 Januari mendatang.

Jalan bawah tanah tersebut, seperti yang dituturkan oleh Sidik Hidayat, PPK (Pejabat Pembuat Komitmen) Jembatan Kretek 2 Bantul dan Underpass Kentungan Cs, Kementerian Pekerjaan Umum, Satuan Kerja Pelaksanaan Jalan Nasional, DIY, akan menelan biaya sebesar Rp126 miliar.

Underpass Kentungan nantinya akan dibangun pada sisi timur barat dengan dua jalur empat lajur.

"Panjang tertutupnya 180 m dengan lebar 15,5 m. Sementara tingginya sekitar 6 meter dari permukaan aspal," kata dia saat ditemui di kantornya, Kamis (3/1/2018).

Harapannya, setelah underpass tersebut beroperasi akan bisa mengurai kemacetan dan kendaraan yang melaju dari barat ke timur dapat berjalan tanpa mengurangi kecepatan.

Baca: Pembangunan Underpass Kentungan Akan Dimulai, Sultan HB X Minta Masyarakat Hindari Kemacetan

Pengerjaan proyek yang memakan waktu kurang lebih selama satu tahun tersebut tentu akan menimbulkan dampak bagi wilayah sekitar.

Perempatan Kentungan yang didominasi oleh kawasan pertokoan dipastikan akan mengalami dampak dari pengerjaan itu.

Rudiyanto, salah seorang pengelola toko peralatan olahraga yang berada di wilayah tersebut mengatakan, dirinya sudah mendengar kabar akan dimulainya pengerjaan proyek underpass Kentungan.

Baginya, pengerjaan proyek itu tentu akan berdampak pada raihan omzet pada gerai yang dikelolanya sejak lima tahun terakhir ini.

"Bisa jadi mungkin nanti omzetnya turun mas, kan yang lewat berkurang karena jalurnya dialihkan," kata Rudi.

Baca: Dampak Pembangunan Underpass Kentungan, Dishub DIY Evaluasi Pengalihan Jalur Secara Berkala

Meskipun demikian, Ia memastikan akan menunggu terlebih dahulu sambil melihat dalam beberapa bulan ke depan, apakah pengerjaan proyek itu malah membikin usaha yang dikelolanya untung atau malah buntung seperti yang telah diperkirakannya.

"Saya masih nunggu bos dulu, kalau memang omzetnya turun ya kemungkinan pindah lokasi," ujarnya.

Disaat Rudi merasa pesimis terrhadap keberlangsung usaha yang dikelolanya, lain hal dengan yang dipikirkan oleh Ambarwati pemilik warung makan disekitar tempat tersebut.

Ambar mengatakan, proyek underpass Kentungan tentunya akan membutuhkan pekerja yang lumayan banyak, sehingga dapat dipastikan kebutuhan makan mereka selama proyek berlangsung akan membeli di warung tempatnya.

Ambar yakin, selama proses pengerjaan itu berlangsung warungnya akan tetap ramai, bahkan Ia berencana untuk memperpanjang jam buka operasional di warungnya tersebut.

"Ya kalau sudah gitu, kita bersyukur aja. Rezeki kan sudah ada yang ngatur," sebutnya.

Baca: Underpass Kentungan Mulai Dibangun 14 Januari, Berikut Ini Peta Pengalihan Arus Lalu Lintasnya

Sementara itu, Peneliti Pusat Studi Transportasi dan Logistik Universitas Gadjah Mada (Pustral UGM), Hengki Purwoto berpandangan, dampak positif ekonomi berupa penghematan biaya dan waktu akan dirasakan oleh para pengguna jalan setelah beroperasinya underpass Kentungan.

Meskipun Hengki belum melakukan riset yang bersinggungan terkait dengan isu tersebut, dugaan awalnya menyatakan usaha yang berada di sepanjang jalan Kaliurang dan Gejayan akan lebih diuntungkan akibat memudahkan para konsumen dan penjual berkecendrungan memangkas harga jual produk-produk mereka.

"Pastinya efektif bisa mengurangi atau menghilangkan kemacetan, sehingga ongkos produksi dan distribusi barang kemungkinan juga dapat terpotong," pungkasnya. (TRIBUNJOGJA.COM)

Sumber: Tribun Jogja
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved