Bisnis

Executive Lecture Series 2018 Hadirkan Bos BCA

Tokoh yang didatangkan adalah Deputi Presiden Direktur BCA, Armand W Hartono dan mengangkat materi seputar Kepemimpinan dan Inovasi Generasi Milenial

Editor: Ari Nugroho
TRIBUNJOGJA.COM / Josef Leon Pinsker
Armand Hartono saat menjelaskan pemaparannya dalam Executive Lecture Series 2018 yang dilangsungkan di University Club UGM, Selasa (18/12/2018). 

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Studi Kepemimpinan dan Inovasi Kebijakan Universitas Gadjah Mada (UGM) kembali menyelenggarakan Executive Lecture Series 2018 untuk yang keempat kalinya, Selasa (18/12) di University Club UGM.

Kali ini tokoh yang didatangkan adalah Deputi Presiden Direktur BCA, Armand W. Hartono dengan mengangkat materi seputar "Kepemimpinan dan Inovasi Generasi Milenial".

Rektor UGM, Panut Mulyono yang hadir pada kesempatan tersebut mengutarakan bahwa, kehadiran para praktisi CEO dari latar belakang pemerintahan, bisnis, dan civil society penting untuk mengulas berbagai pengalaman mereka di dunia masing-masing agar memberikan suasana pembelajaran yang lebih terukur.

Baca: Executive Lecture Series 2018 : Angkat Tema Sukses dari Nol di Era Kompetisi

"Maka dari itu para mahasiswa bisa menggali lebih dalam bagaimana mereka memimpin dan inovasi-inovasi apa yang telah mereka hasilkan untuk bisa dijadikan acuan kedepannya," kata Panut.

Peserta tampak antusias mengikuti kegiatan tersebut yang ditandai dengan ruangan yang penuh dan memperhatikan dengan seksama penjelasan-penjelasan yang diutarakan oleh Armand.

Putra bungsu dari pemilik PT Djarum tersebut membawakan pemaparannya dengan santai dan luwes, serta sekali-kali menambahkan guyonan pada ceritanya, sehingga membawa kesan santai pada Executive Lecture Series 2018 pagi hari itu.

Armand yang merupakan lulusan Stanford University dan University of California ini banyak menjelaskan seputar pemahaman kepemimpinan.

Menurut dia, lazimnya pemimpin adalah seseorang yang bisa mengayomi dan giat untuk berusaha.

"Karena 95 persen pekerjaan kepemimpinan adalah keringat, sisanya baru kemudian arahan. Maka jika ada yang melakukan sebaliknya itu pemimpi bukan pemimpin," kata dia.

Ia juga banyak mengulas seputar inovasi yang dihasilkan, ketika Bank BCA baru-baru merintis lini bisnisnya di tahun 90 an silam.

Baca: BCA Resmikan Sarana Air Bersih di Gunungkidul

Armand berpesan, bahwa inovasi-inovasi yang tidak populer mesti dipertahankan oleh seorang pemimpin dalam menjalankan kebijakannya meski banyak pihak yang menentang.

Ia berkisah, ketika BCA melangsungkan program transfer uang secara real time dengan gratis di 1992 banyak bank-bank lain yang mencemooh dan mengira bahwa tindakan tersebut di luar batas logika bisnis.

Namun seiring waktu berjalan, pembukaan rekening baru oleh para nasabah bertambah dan BCA kewalahan menghadapi hal itu.

"Kami akui kami kewalahan dan tidak siap pada masa itu. BCA jadi terkenal dengan bank 'antre' karena berjubelnya nasabah. Maka setiap bulan untuk mengatasinya kami buka 100 kantor cabang baru dan nasabah bertambah sekitar lima juta akun dari yang semula hanya beberapa ratus ribu," kenang dia.

Selain itu, Armand juga mengingatkan tentang pentingnya kegigihan dari seorang pemimpin seta perubahan dari kebiasaan-kebiasaan lama.

Karena, pemimpin berada di jajaran paling depan diantara para pegawainya, maka setiap tindak tanduk mereka akan diikuti dan senantiasa diawasi. (TRIBUNJOGJA.COM)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved