Travel

Daftar 5 Tempat Makan Murah dan Enak di Yogyakarta, Mulai dari Nasi Langgi Hingga Sate Kere

Berikut ini adalah lima tempat makan murah di Yogyakarta, namun dengan rasa tidak murahan.

Daftar 5 Tempat Makan Murah dan Enak di Yogyakarta, Mulai dari Nasi Langgi Hingga Sate Kere
tribunjogja/hamim
Soto dan lauk di Warung Soto Sewu 

Yogyakarta selama ini dikenal sebagai surganya makanan murah. Seringkali orang luar kota heran dengan harga makanan di Yogyakarta yang murah dibanding dengan kota besar lainya.

Satu tempat makan murah yang layak anda kunjungi adalah Soto Sewu Bu Marto Ngatinah yang berada di Dusun Rukeman, Desa Tamantirto, Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul.

Setiap harinya warung soto sederhana tersebut selalu ramai dikunjungi pembeli, karena harganya yang murah. 

Lauk nasi rames di Warung Soto Sewu
Lauk nasi rames di Warung Soto Sewu (tribunjogja/hamim)

Soto tersebut dikenal dengan sebutan nama Soto Sewu (soto seribu) karena menggambarkan murahnya hidangan tersebut.

"Dulu memang harganya seribu satu mangkuk, dan harga tersebut berlaku cukup lama. Jadi banyak orang yang mengenal soto ini dengan nama Soto Sewu, ujar Mbah Marto Ngatinah.

Meskipun harganya murah, rasa dari soto sewu tidaklah murahan. satu porsi soto berisikan nasi, kobis, tauge, suiran ayam, daun sledri, bawang goreng, dan disiram kuah soto berwarna bening.

Rasa soto sewu ini sangat segar, dengan rasa rempah yang pas.


Tribun Jogja/Hamim Thohari

Dalam kuah soto yang selalu dipanaskan dalam wadah besar tersebut terdapat irisan daun loncang dan dan tomat, dimana irisan-irisan tersebut selalu diikutkan dalam satu porsi soto.

Keberadaan tomat dan daun loncang tersebut semakin menambah segar hidangan soto.

Menyantap soto akan semakin nikmay didampingi lauk, seperti tempe goreng, bakwan, tahu isi, kepala ayam.

Selain menyediakan soto ayam, warung tersebut juga menyediakan nasi rames.

4. Gulai Sapi Pak Triyono

Warung makan di kawasan Bumijo Tengah, Kelurahan Bumijo, Kecamatan Jetis, Kota Yogyakarta setiap harinya selalu ramai didatangi pembeli.

Adalah menu gulai daging sapi yang membuat pelangganya selalu datang kembali ke warung tersebut.

gulai Triyono3
gulai Triyono3 (Tribun Jogja/ Hamim Thohari)

Tempat makan tersebut bernama warung makan Pak Triyono, sesuai dengan nama pemiliknya. Dijelaskan Triyono (44), berjualan nasi gulai adalah usaha yang diwariskan oleh bapaknya.

"Bapak dulu berjualan gulai sejak tahun 1957, dan saya mulai meneruskan usaha ini sekitar tahun 1999. Selain gulai, warung ini juga menyediakan soto sapi, serta sego jangan, dan semua menu ini telah ada sejak bapak yang berjualan," ceritanya.

Ketika anda memesan seporsi nasi gulai, anda akan mendapatkan sepiring nasi yang di atasnya disiram dengan kuah gulai beserta irisan daging sapi dan diberi taburan bawang goreng di atasnya.


Tribun Jogja/Hamim Thohari

Rasa kuah yang gurih dengan tekstur daging sapi yang empuk adalah kesan pertama saat anda mencicipi hidangan yang satu ini.

Beragam bumbu yang didominasi oleh jenis rempah seperi serai, daun salam, kunyit, merica, bawang merah, bawang putih, yang dimasak dalam santan membuat gulai Pak Triyono ini terasa mantap.

Kuah gulai berwarna kuning tidak terlalu banyak disiram ke nasi sehingga saat menyantap nasi gulai ini tidak terasa enek.

Selain memiliki rasa masakan yang nikmat, warung tersebut selalu ramai karena harga makanannya sangat terjangkau.

5. Sate Kere

Di daerah Godean Yogyakarta, tepatnya di Jalan Goden km 7, dusun Gesikan, Kelurahan Sidomulyo, Kecamatan Goden, Kabupaten Sleman terdapat sebuah warung sederhana yang menjual kuliner unik dan cukup terkenal di Yogyakarta, yakni Sate Kere.

Dalam bahasa Jawa, kere berari miskin. Walaupun mempunyai nama kere, tetapi rasa dari hidangan ini jauh dari kata kere.

Disebut sate kere karena harganya yang sangat murah, jadi siapapun bisa menikmatinya, termasuk orang kere sekalipun.

Tidak hanya namanya saja yang unik, sate ini pun cukup unik jika dibanding dengan sate yang pada umumnya ada. Sate kere menggunakan daging sapi.

Menurut penjualnya, Samijo (45), daging yang digunakan adalah daging sapi kualitas nomor dua.

"Setiap penyembelihan sapi, ada bagian dagingnya yang banyak tercampur gajih (lemak). Daging itu yang kami buat jadi sate kere," ujarnya.


Tribun Jogja/Hamim Thohari

Meskipun daging yang digunakan memiliki banyak gajih, tetapi sate kere rasanya tidak ngendal di tenggorokan saat dinikmati. Berbeda dengan kebanyakan olahan gajih yang rasananya "enek" saat dimakan.

Berbeda dengan kebanyakan sate lainnya yang menggunakan sambal kecap ataupun sambal kacang, sate ini tidak menggunakan kedua sambal tersebut.

Sebelum di bakar, daging sapi yang telah ditusukan ke tusuk sate yang terbuat dari batang bambu, dilumuri dengan bumbu yang terdiri dari bawang putih, ketumbar, merica, gula jawa, dan beberapa bumbu lainya.

Setelah dibumbui kemudian sate langsung dibakar tanpa ada proses perebusan dagingnya terlebih dahulu. Meskipun tidak direbus, daging sate kere cukup empuk.

Sate Kere
Sate Kere (Tribun Jogja/ Hamim Thohari)

Penggunaan gula jawa menjadikan rasa sate ini didominasi manis gurih, khas cita rasa Yogyakarta.

Sate kere tersebut disajikan bersama lontong yang disiram dengan sayur tempe berkuah santan.

Sayur tempe tersebut memiliki rasa yang cukup pedas sehingga sangat cocok disantap bersama sate sapi yang berasa manis gurih.

Adapun satu porsi sete kere berisi lima tusuk sate. (*)

Penulis: mim
Editor: ton
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved