Pendidikan
Yayasan Badan Wakaf UII Bentuk Lembaga Kebudayaan 'Embun Kalimasada'
Yayasan Badan Wakaf (YBW) Universitas Islam Indonesia (UII) berkomitmen mengembangkan seni dan budaya yang berjiwa Islami.
Penulis: Noristera Pawestri | Editor: Ari Nugroho
Laporan Reporter Tribun Jogja Noristera Pawestri
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Yayasan Badan Wakaf (YBW) Universitas Islam Indonesia (UII) berkomitmen mengembangkan seni dan budaya yang berjiwa Islami.
Hal itu diwujudkan dengan mendirikan sebuah Lembaga Kebudayaan bernama Embun Kalimasada.
Embun dimaknai sebagai pelambang air yang suci dan mensucikan, sedangkan Kalimasada merupakan pelambang prinsip syahadat.
Adapun landasan pendirian lembaga tersebut merupakan realisasi dari cita-cita awal pendirian UII yang sudah tertunda sekian lama.
Baca: UII Teken Kerjasama Dengan 8 Mitra Perbankan dan Keuangan
Mengawali eksistensinya, Embun Kalimasada mengundang budayawan dan seniman di wilayah Yogyakarta dan sekitarnya dalam acara Sarasehan Budaya dengan tema Masjid, Pasar, dan Strategi, pada Kamis (1/11/2018).
Acara ini menjadi forum perdana untuk ‘kulo numun’ dan meminta restu serta doa dari para budayawan dan seniman atas pembentukan lembaga tersebut.
Ketua Pengurus Yayasan Badan Wakaf UII, Suwarsono Muhammad, berharap, Embun Kalimasada dapat menjadi media bertemunya prakarsa dan aksi dalam memajukan kebudayaan Indonesia.
“Kami berharap hadirnya Embun Kalimasada ini dapat menjadi wadah kesenian dan kebudayaan yang menyatukan tradisi dan modernitas dalam kesatuan yang harmoni, serta memberikan kontribusi dalam merawat peradaban madani,” tutur Suwarsono.
Baca: Awasi Penyalahgunaan Narkotika, UII dan BNN Jalin Kerjasama
Lebih lanjut, ia menyampaikan beberapa agenda dan rencana kegiatan yang akan di lakukan oleh Embun Kalimasada selama setahun kedepan.
Yakni akan menggelar pameran seni yang disertai penerbitan monograf, lima kali dalam setahun.
"Adapun beberapa tema yang akan diangkat berupa fotografi masjid, sajadah, partai politik Islam dalam sejarah Indonesia, serta seni rupa tentang Zaman Perubahan,” ucapnya.
Sementara itu, Budayawan Emha Ainun Najib menjelaskan bahwa kebudayaan tidak hanya dimaknai secara sempit sebagai produk seni dan budaya, tetapi segala sesuatu merupakan sebuah kebudayaan.
Cak Nun melihat embun sebagai estetika, karena menurut dia, semua yang ada dalam Embun Kalimasada merupakan lembaga kebudayaan.
"Sehingga hadirnya embun lebih memberi ruang kepada estetika yang dapat menjadi penyempurna atau kaffahnya lembaga pendidikan ini,” tuturnya.(TRIBUNJOGJA.COM)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/sarasehan-budaya-dengan-tema-masjid-pasar-dan-strategi_20181101_202432.jpg)