Sleman
Penyembelihan Bekakak, Simbol Pengorbanan untuk Kebaikan
Tradisi bekakak merupakan simbol pengorbanan untuk kebaikan orang banyak.
Penulis: Alexander Aprita | Editor: Gaya Lufityanti
Laporan Reporter Tribun Jogja, Alexander Ermando
TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Ratusan warga sudah berkumpul di kawasan Situs Gunung Gamping, Sleman sejak pukul 15.00 WIB, Jumat (26/10/2018).
Dari pantauan Tribunjogja.com, mereka menanti dimulainya ritual Saparan Bekakak di tempat itu.
Baca: VIDEO : Meriahnya Pawai Saparan Bekakak di Ambarketawang Sleman
Sekitar setengah jam kemudian, rombongan pembawa Bekakak tiba di lokasi.
Warga pun langsung menyemut ke pelataran situs.
Jumlahnya mendadak berlipat ganda.
Sebuah tandu, diusung oleh enam orang, masuk dan menaiki panggung di sebelah Situs Gunung Gamping.
Di situlah sepasang boneka pengantin yang disebut sebagai Bekakak diletakkan.
Ketua Panitia Saparan Bekakak Bambang Cahyono menjelaskan kedua boneka tersebut dibuat dengan bahan tepung beras ketan dan tepung beras Jawa.
Rongga di dalamnya diisi cairan gula berwarna merah.
"Ketannya 14 kilo, beras Jawanya 21 kilo. Jadi beratnya sekitar 35 kilo," jelas Bambang pada Tribunjogja.com di lokasi ritual.
Tradisi Saparan Bekakak bermula pada tahun 1755.
Alkisah, warga sekitar saat itu percaya bahwa kawasan Gunung Gamping memiliki penunggu makhluk halus.
Sebab sering terjadi kecelakaan saat penambangan batu gamping dilakukan.
Bekakak sendiri merupakan perwujudan dari Ki Wirosuto dan istrinya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/penyembelihan-bekakak-simbol-pengorbanan-untuk-kebaikan_20181026_201823.jpg)