Travel

Jejak Sejarah Hindu-Buddha Nusantara di Museum Prambanan

Sebagai satu dari beberapa situs candi terbesar di Indonesia, Kompleks Candi Prambanan tidak pernah habis dibahas.

Penulis: Ahmad Syarifudin | Editor: Gaya Lufityanti
TRIBUNJOGJA.COM / Alexander Ermando
Arca-arca yang dari di reruntuhan candi saat baru ditemukan, diletakkan berjajar di halaman museum. 

Display artefak disajikan dengan menarik.

Semuanya dilengkapi dengan keterangan tertulis di sisi artefak.

Grafis besar bangunan candi pun terpampang memenuhi tembok.

Memasuki bangunan kedua, pengunjung akan diceritakan secara visual tentang bagaimana candi dibangun.

Di sini pula lah pengunjung akan melihat prasasti yang sangat tua, isinya menceritakan tentang pembangunan candi di masa lampau.

Di sudut, sebuah televisi layar datar menampilkan video ilustrasi dalam bentuk animasi, menceritakan bagaimana situs Prambanan dibangun pada jaman dahulu.

Terakhir, pengunjung akan menemukan sejumlah artefak kepala Buddha yang sangat familiar.

Tidak hanya candi di kawasan Prambanan, museum ini juga menyajikan artefak dari Candi Borobudur.

Pengunjung bisa melihat dengan jelas sejumlah perlengkapan sehari-hari di masa lalu.

Mulai dari piring dari tanah liat bermotif tanaman hingga pajangan berupa guci.

Derry Supriyatno, seorang pengunjung mengaku takjub dengan isi museum ini.

Ia masih terheran-heran bagaimana candi sebesar itu bisa dibangun tanpa teknologi yang canggih seperti saat ini.

"Informasinya diberikan secara lengkap, kita jadi tahu bagaimana candi dibangun saat itu," kata pria asal Kalimantan Tengah ini.

Baca: Gelar Latihan Bersama di Candi Prambanan, Perisai Diri Ingin Telurkan Pesilat Baru

Museum Prambanan sendiri beroperasi sejalan dengan jam operasional dari Kompleks Candi Prambanan sendiri.

Pengunjung sama sekali tidak dikenakan biaya alias gratis.

Pengunjung museum bahkan bisa menikmati tayangan khusus dalam ruangan seperti bioskop.

Mereka akan disajikan film pendek tentang sejarah Candi Prambanan.

"Saya kira museum ini sangat rekomen sebagai wisata edukasi," ujar Derry.(*)

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved