Yogyakarta

RSUP Dr Sardjito Tangani Kembar Siam

Kembar siam yang lahir pada 2 Mei 2015 berasal dari Banda Aceh, saat ini tengah ditangani oleh RSUP Dr Sardjito.

Penulis: Siti Umaiyah | Editor: Gaya Lufityanti
TRIBUNJOGJA.COM / Siti Umaiyah
Bayi kembar siam yang tengah ditangani RSUP Dr Sardjito, Senin (15/10/2018). 

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Bayi kembar siam yang lahir pada 2 Mei 2015 berasal dari Banda Aceh, saat ini tengah ditangani oleh RSUP Dr Sardjito.

Dari informasi yang dihimpun Tribunjogja.com, kembar siam yang lahir dari pasangan SP (32) dan SH (30) melalui prosedur section caesarea (SC) ini diketahui mengalami kembar yang menyatu di bagian parietal sejak dilahirkan di RSU Kutacane.

Baca: Kisah Pilu, Bayi Kembar Siam Ini Harus Dipisahkan untuk Menyelamatkan Saudaranya

Karena tidak adanya fasilitas, kembar siam tersebut dirujuk ke RSU Zaenoel Abidin di Banda Aceh dan dirawat selama 33 hari.

Dari RSU Zaenoel Abidin, bayi yang ditahui bernama FS dan FR tersebut dirujuk ke RSPAD Gatot Subroto, dan kemudian dirujuk ke RSUP Dr Sardjito.

Ketua Tim Medis, dr Sunarti Hapsara mengungkapkan jika penanganan FS dan FR ini sejak 2015 lalu dilakukan melalui kolaborasi tiga rumah sakit, yakni RSUP Dr Zaenoel Abidin, RSPAD Gatot Subroto serta RSUP Dr Sardjito.

Dia mengungkapkan, sejauh ini, operasi terhadap FS dan FR sudah dilakukan sebanyak lima kali.

"Kita sudah melakukan operasi selama lima kali dengan melibatkan seluruh ahli. Kita juga sudah melakukan konsultasi kepada konsultan internasional Prof Goodrich, menurutnya FS dan FR tidak simpel, sangat komplek dan otak yang mengatur >70%. Jadi sangat beresiko," terangnya.

Baca: Wakil Bupati Gunungkidul Berikan Bantuan untuk Si Kembar Siam Meikha dan Meisha

Dengan banyak pertimbangan itulah akhirnya tim medis memutuskan untuk menghentikan operasi pemisahan terhadap kembar siam ini.

"Sampai 5 kali belum berhasil. Pembuluh darah di otak itu campur, tidak mungkin dipisahkan, kalau dipisahkan harus mengorbankan salah satu. Namun setelah dipisahkan belum tentu juga yang satunya tidak mengalami kecacatan. Selain itu, dari fungsi ginjal dan otak, yang satu lebih fungsional ginjalnya yang satu lebih di otaknya. Mereka saling mensuplai," ungkapnya. (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved