Bisnis

Pelemahan Rupiah terhadap Dollar Direspons Beragam oleh Kalangan Pebisnis

Sementara, di pasar uang, jatuhnya nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS menarik perhatian para pemilik 'Úang Paman Sam'

Penulis: Victor Mahrizal | Editor: Ari Nugroho
ist
Ilustrasi keuangan dolar 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Pelemahan mata uang Rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS) direspon beragam oleh kalangan pebisnis.

Industri mebel nasional, menjadi salah satu yang paling diuntungkan jika terjadi depresiasi tahan rupiah.

Bahkan, koreksi rupiah terhadap dollar AS menjadi berkah bagi industri mebel lokal.

Alasannya, orientasi pelaku usaha mebel Indonesia adalah pasar ekspor, sementara bahan baku diperoleh dari domestik.

Ketua Bidang Organisasi DPP Asmindo Endro Wardoyo, membenarkan hal tersebut.

Di tengah kondisi pelemahan nilai tukar rupiah, industri mebel dan kerajinan kayu mendapatkan peluang yang cukup besar.

Baca: Rupiah Melemah, Usaha Sihono Tetap Jalan Terus

"Memang dari kondisi pelemahan rupiah, pihak yang beruntung adalah para eksportir ini," ungkap dia kepada Tribun Jogja, Kamis (6/9/2018).

Meski demikian, hal tersebut baru akan berpengaruh signifikan jika terjadi dalam rentang waktu yang cukup panjang, semisal pelemahan ini berlanjut sampai akhir tahun 2018.

“Kalau hanya terjadi sementara, ya tidak akan terlalu berarti,” kata Endro.

Endro mengatakan para eksportir besar, lebih banyak bertransaksi dengan sistem kontrak, sehingga harga yang berlaku adalah nilai tukar ketika terjadi transaksi, sementara masih banyak pelaku ekspor yang kontraknya masih berjalan, sehingga tidak menikmati kenaikan dollar AS.

“Kalau kontraknya terjadi saat ini, itu baru menguntungkan, makanya pelemahan rupiah ini juga menjadi momentum untuk menaikkan ekspor kita,” imbuh Endro.

Baca: Produsen Gula Semut di Kulonprogo Tak Maksimal Nikmati Manisnya Dolar

Meski demikian Endro berharap, rupiah tetap berada di level idealnya yakni Rp12.000 - Rp13.000 per US Dollar karena terlalu tinggi nilai Dollar juga menjadikan harga komoditas menjadi mahal, dampaknya produk-produk daya saing di pasar global akan melemah.

“Ekspor mebel nasional masih bergantung di negara-negara tradisional, seperti Amerika Serikat dan negara-negara eropa. Sementara kondisi Amerika Serikat juga tidak begitu bagus, dilema juga,” ujarnya.

Sementara, di pasar uang, jatuhnya nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS menarik perhatian para pemilik 'Úang Paman Sam'.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jogja
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved