TRIBUN JOGJA FOTO

BERITA FOTO : Ritual Pembuatan Keris Yogya

Ki Sungkowo ialah seorang empu pembuat keris yang bertempat tinggal di Gatak, Sumberagung, Moyudan, Sleman.

BERITA FOTO : Ritual Pembuatan Keris Yogya - keris-empu-sungkowo-harum-brojo_20180906_083006.jpg
TRIBUNJOGJA/Bramasto Adhy
BERITA FOTO : Ritual Pembuatan Keris Yogya - keris-empu-sungkowo-harum-brojo_20180906_083331.jpg
TRIBUNJOGJA/Bramasto Adhy
BERITA FOTO : Ritual Pembuatan Keris Yogya - keris-empu-sungkowo-harum-brojo_20180906_083305.jpg
TRIBUNJOGJA/Bramasto Adhy
BERITA FOTO : Ritual Pembuatan Keris Yogya - keris-empu-sungkowo-harum-brojo_20180906_083118.jpg
TRIBUNJOGJA/Bramasto Adhy
BERITA FOTO : Ritual Pembuatan Keris Yogya - keris-empu-sungkowo-harum-brojo_20180906_083149.jpg
TRIBUNJOGJA/Bramasto Adhy
BERITA FOTO : Ritual Pembuatan Keris Yogya - keris-empu-sungkowo-harum-brojo_20180906_082757.jpg
TRIBUNJOGJA/Bramasto Adhy
BERITA FOTO : Ritual Pembuatan Keris Yogya - keris-empu-sungkowo-harum-brojo_20180906_082911.jpg
TRIBUNJOGJA/Bramasto Adhy
BERITA FOTO : Ritual Pembuatan Keris Yogya - keris-empu-sungkowo-harum-brojo_20180906_082822.jpg
TRIBUNJOGJA/Bramasto Adhy
BERITA FOTO : Ritual Pembuatan Keris Yogya - keris-empu-sungkowo-harum-brojo_20180906_082647.jpg
TRIBUNJOGJA/Bramasto Adhy

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Siang itu Ki Sungkowo Harum Brojo, dengan raut wajah serius memperhatikan bara api di depannya. Dibantu dua orang rekannya, Ki Sungkowo mengamati bara api yang membias bayangan di kacamata yan ia kenakan. Sementara kedua tangannya kokoh memegang sebatang penjepit yang mengapit sebatang besi terbenam dalam bara api. Batang besi itulah yang ditempa oleh Ki Sungkowo, dan nantinya dibentuk menjadi sebilah keris, Senin (24/2/2014).

Ki Sungkowo ialah seorang empu pembuat keris yang bertempat tinggal di Gatak, Sumberagung, Moyudan, Sleman. Ia mewarisi keterampilan membuat keris dari ayahnya yang juga seorang empu keris bernama Ki Jeno Harumbrojo. Dari sekian banyak saudaranya, Ki Sungkowo lah satu-satunya yang hingga kini tetap setia menekuni profesi tersebut.

Tidak mudah menjadi seorang empu karena selain harus paham pakem-pakem keris, seseorang harus melakukan ritual atau dalam bahasa Jawa disebut lelaku. Salah satu lelaku yang dilakukan Ki Sungkowo, yaitu menghindari bekerja pada hari yang dianggap sebagai hari pantangan seperti Rabu Pon, Kamis Wage, dan Jumat Kliwon, sebagai ganti puasa 40 hari yang lazim dilakukan oleh empu-empu jaman dahulu sebelum membuat sebilah keris. Selain hari pantangan, Ki Sungkowo juga menyiapkan ubo rampe sesaji seperti tumpeng, jajan pasar, dan ayam ingkung agar proses pembuatan keris berjalan lancar.

Butuh waktu sekitar satu bulan bagi Ki Sungkowo untuk menyelesaikan sebilah keris pesanan. Pada saat banyak pesanan, seorang pemesan keris harus sabar menunggu hingga satu setengah tahun untuk mendapatkan keris pesanannya. "Membuat keris itu membutuhkan ketelatenan. Prosesnya memang agak berat dan lama," ujar Ki Sungkowo.

Keris hasil karya Ki Sungkowo berharga jutaan rupiah. Pemesan keris Ki Sungkowo tidak hanya dari dalam negeri, namun juga dari Malaysia, Singapura, Jerman, dan Australia. Pelanggan dari dalam negeri mayoritas berasal dari Jakarta dan Yogyakarta. Banyak pejabat dari era Orde Baru hingga era reformasi, bahkan duta-duta besar negara lain yang datang kepada Ki Sungkowo untuk memesan keris sekadar untuk koleksi atau digunakan sebagai pemicu sugesti yang timbul dari jenis dan pamor keris yang dipesan. Bahkan Sri Sultan Hamengkubuwono X pun pernah memesan keris kepada Ki Sungkowo.

Namun dalam kesuksesan yang telah diraih Ki Sungkowo, terbesit keprihatian dalam dirinya. Ketiadaan generasi muda yang tertarik mempelajari pembuatan keris lah yang membuat Ki Sungkowo prihatin. Ki Sungkowo mengkhawatirkan suatu hari keris sebagai budaya adiluhung bangsa akan punah karena tidak ada lagi generasi yang mau membuat keris.

Penulis: bad
Editor: bad
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved