Ketika Setiap Kata Terucap Adalah Pertaruhan Keselamatan
Setiap keputusan akan memberi dampak yang sangat besar, setiap detik merupakan pertaruhan dan setiap kata yang diucapkan mengandung keselamatan
Penulis: Santo Ari | Editor: Mona Kriesdinar
Failure is not an option, inilah kalimat paling terkenal dalam film berjudul Apollo 13 yang dirilis tahun 1995 silam. Kalimat ini pula digunakan sebagai judul presentasi di History Channel tentang program misi luar angkasa NASA pada 2003. Ini tampaknya dianggap mewakili apa yang telah dilakukan dan apa yang seharusnya dilakukan para astronot, manajer misi luar angkasa, para pengendali misi, para insinyur penerbangan dan berbagai pihak yang terlibat dalam misi tersebut. Pendek kata, tak ada ruang untuk melakukan kesalahan sedikitpun.
Kutipan yang sama tampaknya tepat disematkan kepada para petugas di menara pengendali lalu lintas penerbangan atau Air Traffic Control (ATC). Setiap keputusan akan memberi dampak yang sangat besar, setiap detik merupakan pertaruhan, dan setiap kata yang diucapkan mengandung keselamatan.
SIANG itu, mata Agus Ekananto, tak lepas dari layar monitor di hadapannya. Bola matanya terus berpindah dari satu titik ke titik lain, memantau pergerakan pesawat yang terlihat melalui radar. Air Traffic Controllers yang bertugas di AirNav Distrik Yogyakarta ini fokus agar setiap pesawat dapat lepas landas dan mendarat dengan aman dan teratur, sekaligus memastikan agar pergerakan pesawat di udara tetap berada di jalurnya, sehingga terhindar dari berbagai insiden yang bisa berakibat fatal.
Dalam kesehariannya, Agus bertanggung jawab dalam menjaga keteraturan pesawat. Selain itu ia juga memberikan informasi cuaca dan memberikan bantuan ketika pesawat ada masalah. Beban di pundaknya sangatlah besar karena keselamatan penerbangan yang berarti keselamatan penumpang merupakan tanggung jawabnya.
"Kita harus tenang, namun tetap responsif dan konsisten dengan apa yang kita hadapi. Karena yang kita hadapi adalah pilot yang membawa penumpang, maka dalam memberikan instruksi ke pilot harus disertai penjelasan. Karena setiap detik ucapan kita adalah keselamatan," ungkap pria yang sudah 20 tahun bekerja sebagai ATC ini.
Terlebih, di Bandara Adisutjipto tempatnya bekerja, Agus menghadapi situasi yang menantang.
Menurut dia bandara ini termasuk spesial lantaran Adisutjipto sudah tak mampu lagi menampung banyaknya lalu lintas penerbangan.
Bandara Adisutjipto ini memang memiliki landasan pacu yang pendek dan tempat parkir pesawat yang terbatas. Terlebih kawasan ini juga menyatu dengan Lanud Adisutjipto yang menggunakan landasan pacu dan ruang udara Yogyakarta untuk latihan terbang para penerbang TNI AU.
Adapun saat ini terdapat 187 pergerakan penerbangan sipil di Adisutjipto setiap harinya. Angka itu belum termasuk dari jumlah pesawat latih dari TNI AU. Sehingga bila ditotal setidaknya ada 300-an pergerakan pesawat setiap harinya. Sedangkan idealnya setiap satu jam 14 penerbangan dihitung menggunakan 80% dari kapasitas landas pacu.
"Kenyataanya di sini terdapat 20 sampai 24 penerbangan per jam. Sementara permintaan masyarakat dan permintaan airlines untuk masuk Yogyakarta itu tinggi sekali," ungkap General Manager AirNav Indonesia Distrik Yogyakarta, Nono Sunariyadi.
Konsekuensinya setiap personel ATC selalu melakukan pembekalan tentang apa yang akan mereka hadapi, termasuk tentu saja jumlah pergerakan pesawat.
"Semua harus terencana,” ucap Agus.
Sehingga dengan demikian semua pesawat bisa masuk dan keluar dengan urut dan aman.
Adapun selain kecermatan, pekerjaan ini juga menuntut kondisi tubuh mereka selalu prima. Untuk mendapatkannya maka setiap petugas harus memiliki istirahat yang cukup, seperti yang selama ini dilakukan Agus.
"Agar mata tidak lelah, saya scroll mata saya ke kanan kiri atas bawah. Dengan begini maka seluruh pesawat yang ada di layar bisa terpantau," bebernya.
Termasuk pikiran mereka harus fokus. Maka dari itu, dia akan mengenyampingkan setiap permasalah rumahnya, ketika ia sudah duduk di depan layar.
"Kita harus tenang, dan profesional. Jadi sebelum duduk harus tanpa masalah," tuturnya.
Senada, Manajer Operasional ATC, Erwin Kurniawan menjelaskan bahwa setiap ATC harus bekerja selama dua jam untuk kemudian istirahat dan digantikan personel lainnya. Ini dilakukan supaya tingkat konsentrasi dan kemampuan fisik mereka tetap prima.
Sehingga mereka mampu melakukan pemantauan setiap aktivitas di ruang kontrol dan merekamnya baik itu suara maupun gerakan personelnya.
"Kita tidak bisa main-main. Oleh karena itu, penerbangan adalah transportasi paling aman di dunia. Karena kami bekerja berdasarkan aturan, dan tidak boleh menyimpang. Kalau menyimpang maka akan berakibat fatal," terangnya.
Adapun Gus Bejo, SPV ATC dari AirNav Yogyakarta. Keselamatan penerbangan adalah peran semua pihak, baik itu pilot maupun petugas navigasinya. Penumpang hanya mengetahui bahwa yang berjasa mengantarkan mereka hanyalah pilot, tapi ternyata ada orang di AirNav yang memberikan kontribusi besar dalam keselamatan penerbangan. Atas keadaan itu, ia menilai bahwa seorang pemandu penerbangan bekerja dengan nilai ibadah yang tinggi.
"Apa yang kita ucapkan akan dilakukan pilot. Jadi Setiap detik ucapan mengandung keselamatan. Maka harus hati-hati, tapi jangan lambat juga karena butuh responsif yang cepat," paparnya. (TRIBUNJOGJA.com / Santo Ari)