AirNav Menjawab Tantangan di Mercusuar Dunia

Bagaimana kesiapan AirNav dalam melayani navigasi penerbangan di Bandara New Yogyakarta International Airport (NYIA) Kulon Progo?

Penulis: Santo Ari | Editor: Mona Kriesdinar
IST
Masterplan Bandara Baru New Yogyakarta International Airport di Kulon Progo 

Sabda Leluhur

"Sesuk ning tlatah Temon kene bakal ono wong dodolan cam cau ning awang-awang. Tlatah Temon kene bakal dadi susuhe kinjeng wesi Tlatah saka lor Gunung Lanang lan Kidul Gunung Jeruk bakal dadi kutho, Glgah bakal dadi mercusuaring bawono"

ITULAH isi Sabda Leluhur yang dibacakan Presiden Joko Widodo ketika membuka seremoni groundbreaking pembangunan Bandara New Yogyakarta International Airport (NYIA) di Kulon Progo pada Jumat (27/1/2017) lalu.

Sabda tersebut jika diterjemahkan berbunyi bahwa nantinya di Temon ini akan muncul penjual cincau yang berjualan di angkasa. Temon juga kelak akan menjadi sarang capung besi. Tempat antara utara Gunung Lanang dan selatan Gunung Jeruk akan menjadi kota. Dan Glagah bakal menjadi mercusuar dunia.

Apakah berlebihan? tampaknya tidak. Bandara baru ini nantinya akan menempati lahan seluas 587 hektar dan diyakini bakal menjadi satu di antara bandara terbesar dan termegah di Indonesia dengan lalu lintas 14 juta penumpang per tahunnya. Keberadaan bandara baru ini sekaligus menjadi pendorong pariwisata, perekonomian, dan investasi yang merangsang pertumbuhan di wilayah sekitarnya.

Adapun saat ini, Bandara Adisutjipto dianggap sudah tak mampu menjawab tantangan tersebut. Ia sudah memiliki beban kerja yang sangat tinggi dan tak bisa lagi menampung padatnya lalu lintas penerbangan.

General Manager AirNav Indonesia Distrik Yogyakarta, Nono Sunariyadi kepada TRIBUNJOGJA.com, Senin (3/9/2018) menjelaskan, salah satu penyebabnya yaitu karena permintaan masyarakat untuk terbang melalui Yogyakarta sudah sangat tinggi. Karena hal itu pula maskapai yang ingin berangkat maupun menuju ke Yogyakarta juga semakin meningkat.

General Manager AirNav Indonesia Distrik Yogyakarta, Nono
General Manager AirNav Indonesia Distrik Yogyakarta, Nono (TRIBUNJOGJA.com | Santo Ari)

Dari data yang dimiliki, dalam satu hari terdapat 187 pergerakan penerbangan sipil di Adisutjipto, angka itu  belum termasuk dari jumlah pesawat latih dari TNI AU. Sehingga bila ditotal setidaknya ada 300-an pergerakan pesawat setiap harinya. Sedangkan idealnya setiap satu jam 14 penerbangan dihitung menggunakan 80% dari kapasitas landas pacu. 

"Kenyataanya di sini terdapat 20 sampai 24 penerbangan per jam. Sementara permintaan masyarakat dan permintaan airlines untuk masuk Yogyakarta itu tinggi sekali," ungkapnya.

Menurutnya, kondisi ini lantaran adanya pertumbuhan ekonomi di masyarakat Yogyakarta, di samping identitas Yogyakarta sebagai destinasi wisata nomor dua setelah Bali. Nono lantas menyebut keputusan pemerintah untuk membangun New Yogyakarta International Airport (NYIA) menjadi langkah yang tepat.

Namun demikian pertumbuhan tersebut belum dibarengi dengan perbaikan fasilitas sarana dan prasarana bandara. Semisal Bandara Adisutjipto yang memiliki tempat parkir pesawat yang terbatas dan landasan pacu yang pendek. Untuk itu, pihaknya terus bekerja keras agar semua penerbangan dapat terlayani dengan baik, baik itu penerbangan sipil maupun militer dari TNI AU.

Aktivitas di Air Traffic Controller Bandara Adisutijipto, Yogyakarta, Senin (3/9/2018)
Aktivitas di Air Traffic Controller Bandara Adisutijipto, Yogyakarta, Senin (3/9/2018) (TRIBUNJOGJA.com | Santo Ari)

Oleh karena itulah pemerintah mencanangkan pembangunan bandara baru di Kulon Progo yang merupakan salah satu Proyek Strategis Nasional sebagaimana yang tertuang dalam Perpres No 58 Tahun 2017.

Bandara baru ini nantinya NYIA bakal melayani lalu lintas penumpang sebanyak 14 juta orang per tahun di tahap pertama (2019 – 2031), yang kemudian akan dikembangkan di tahap kedua (2031 – 2041) sehingga mampu menampung 20 juta penumpang per tahunnya.

Bukan hanya proyeksi jumlah pergerakan penumpang yang luar biasa, dalam informasi proyek yang dirilis Angkasa Pura I juga disebutkan bahwa Bandara NYIA nantinya bakal diproyeksikan untu melayani pergerakan 41,740 ton kargo per tahun di tahap pertama, dan meningkat menjadi 55,380 ton kargo di tahap kedua. Sementara jumlah pergerakan pesawat diproyeksikan berada di angka 97,350 pesawat di tahap pertama dan 131,830 pesawat di tahap kedua.

Sementara itu dari segi infrastruktur, pada tahap pertama pembangunannya (2020-2031) NYIA akan memiliki terminal seluas 130 ribu meter persegi di tahap pertama, dan 195 ribu meter persegi di tahap dua. Sedangan panjang landasan pacu yang dibangun yakni sepanjang 3250 m x 60 m, jauh lebih besar dari runway di Bandara Adisutjipto sekarang yang sepanjang 2250 m x 45 m. Begitu pula dengan kapasitas apron  yang diproyeksikan mampu menampung 35 hingga 45 pesawat, sementara Bandara Adisutjipto hanya mampu menampung 8 pesawat saja.

Luasan itu tentunya jauh lebih besar dari bandara internasional di Bali maupun Surabaya yang panjang landasannya hanya 3.000 meter dan lebar 45 meter

Dengan proyeksi tersebut, sebagai penyelenggara pelayanan navigasi penerbangan, bagaimanakah kesiapan AirNav Indonesia dalam menjawab tantangan tersebut?

"Kami akan melancarkan keselamatan di langit Yogyakarta. Percayakan kami, kami atur sebaik mungkin dan anda (penumpang) selamat," ucap Nono.

Radar Air Traffic Controller Bandara Adisutjipto, Yogyakarta
Radar Air Traffic Controller Bandara Adisutjipto, Yogyakarta (TRIBUNJOGJA.com | Santo Ari)

Bukan tanpa sebab, sejumlah langkah persiapan dan strategi terus dilakukan AirNav. Mulai dari peningkatan layanan, prosedur navigasi, penyiapan perlengkapan hingga pada peningkatan kapasitas dan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM).

Semisal dalam waktu dekat ini, AirNav bakal membangun tower baru seiring dengan pembangunan Bandara NYIA.

Dalam hal pelayanan navigasi penerbangan, nantinya AirNav bakal mengaplikasikan prosedur pendaratan melalui Performance Based Navigation (PBN) dengan menggunakan satelit sebagai basis utama navigasi. Melalui sistem ini maka pengaturan lalu lintas penerbangan akan menjadi lebih presisi dan akurat.

Sebagai informasi, prosedur PBN memungkinkan pilot mengetahui lokasi dirinya sendiri dengan bantuan sistem navigasi satelit. Berbeda dengan sistem sebelumnya yakni Ground Based Navigation (GBN) yang mengandalkan informasi dari petugas di darat.

Nono menekankan bahwa peningkatan kualitas pelayanan itu dilakukan semata-mata untuk memastikan keselamatan penerbangan. Ini sesuai misi AirNav Indonesia dalam menyediakan layanan lalu lintas penerbangan yang aman, nyaman dan ramah lingkungan.

Maka hal yang  dilakukan adalah dengan menyediakan seluruh fasilitas pelayanan dengan teknologi terkini, baik fasilitas telekomunikasi, navigasi maupun surveillance. Kemudian juga didukung dengan teknologi otomasi yang menjamin keakuratan data dan kecepatan proses sehingga mampu meningkatkan kinerja pelayanan.

Agar pelayanan ini dapat berjalan maksimal, di tubuh AirNav Indonesia Distrik Yogyakarta juga dilakukan peningkatan mutu sumber daya manusia (SDM).

"Semua teman-teman  Air Traffic Controllers harus punya lisensi serta rating dan harus selalu diperbaharui. Dari teman teknik harus update pengetahuanya dengan alat baru yang semakin canggih. Semua itu sudah diprogramkan melalui rencana kerja yang disusun setiap tahunnya," papar Nono.

Peningkatan pengetahuan dan keterampilan juga dilakukan melalui training–training pada lembaga training yang berkualitas, serta memberikan sosialisasi terhadap regulasi yang harus dipenuhi. Selain itu pihaknya juga akan selalu bekerjasama dengan TNI AU.

"Dunia penerbangan itu dinamis dan memiliki bermacam-macam masalah. Jadi kita harus hadir untuk meberikan solusi di tiap masalah yang ada. Terutama bagi keselamatan penerbangan," katanya. (Santo Ari/TRIBUNJOGJA.com / Santo Ari)

Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved