Bisnis

Begini Pandangan Asosiasi Pelaku Usaha terhadap Pelemahan Rupiah

Mata uang rupiah kembali mengalami pelemahan tajam terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Senin (13/8/2018) pagi.

Editor: Gaya Lufityanti
zoom-inlihat foto Begini Pandangan Asosiasi Pelaku Usaha terhadap Pelemahan Rupiah
Net
Nilai Rupiah

Laporan Calon Reporter Tribun Jogja, Yosef Leon Pinsker

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Mata uang rupiah kembali mengalami pelemahan tajam terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Senin (13/8/2018) pagi.

Seperti dilansir Bloomberg, rupiah dibuka di angka 14.579 per dolar AS, melemah tajam jika dibandingkan dengan penutupan perdagangan sebelumnya yang ada di angka 14.478 per dolar AS.

Baca: Awal Pekan, Nilai Tukar Rupiah Menguat

Sementara itu, berdasarkan Kurs Referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI), rupiah dipatok di angka 14.583 per dolar AS, melemah jika dibandingkan dengan patokan pada Jumat lalu di angka 14.437 per dolar AS.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Teknologi Informasi & Komunikasi Nasional (APTIKNAS), Soegiharto Santoso berharap, kondisi ini tidak akan berlangsung lama, hal tersebut dikarenakan mata uang yang digunakan oleh pelaku usaha untuk membeli produk teknologi informasi (TI) masih menggunakan dolar AS atau dalam kata lain mengimpor.

"Ya tentu kita berharap nilai tukar rupiah terhadap dolar AS bisa stabil ya, karena memang pembelanjaan produk-produk TI menggunakan USD, pastinya sangat berpengaruh," ujarnya pada Tribunjogja.com.

Dia pun tidak menampik bahwa saat ini produk-produk TI masih banyak yang diimpor dari luar negeri.

Akibatnya, mau tak mau pelaku usaha harus menaikkan harga jual produk untuk menutupi kelebihan biaya yang dibayarkan ketika mengimpor produk.

Namun, hal tersebut tidak serta merta langsung dilakukan oleh pelaku usaha, dia mengatakan paling tidak kenaikan harga akan terjadi beberapa bulan kedepan.

"Sebagian pelaku usaha kan juga sudah ada yang kasih cadangan mereka punya dolar AS dan produknya, karena penawaran harganya kan sudah ada, kita biasanya kasih range. Jadi ada mekanisme yang sudah dibuat pelaku usaha, yang kita khawatirkan kan ketika pembelian berikutnya saja," pungkasnya.

Baca: Meskipun Rupiah Anjlok, Penjualan Mobil Bekas Biasa-biasa Saja

Daya beli masyarakat pun dinilainya juga akan tergerus jika kondisi ini berlangsung terus-menerus.

Dia juga beranggapan, bahwa saat ini pasar untuk produk TI juga sedang mengalami kelesuan.

"Posisi pasar juga sedang-sedang saja, artinya tidak ada lonjakan yang tinggi dari pasar untuk produk-produk TI, ada penurunan jika kita bandingkan dengan tahun lalu pada periode yang sama, khususnya untuk produk unit," katanya. (*)

Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    Berita Populer

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved