Lifestyle

Film Sepotong Surga dari Banda Menguak Permasalahan Petani Pala

Film yang juga diberi judul Black Gold ini menjadi official selection di Teoswa International Film Art Festival di Tiongkok pada tahun ini.

Penulis: Santo Ari | Editor: Gaya Lufityanti
istimewa
Potongan gambar dalam film Sepotong Surga dari Banda 

TRIBUNJOGJA.COM - Siapa sangka kunjungan penelitian bisa menjadi sebuah karya film dokumenter bila dilakukan oleh tangan yang tepat.

Ghalif P Sadewa, satu dari 100 mahasiswa yang dikirim ke Maluku Utara dalam Ekspedisi Jalur Rempah yang digagas Direktorat Sejarah di bawah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan memiliki aksi yang berbeda.

Di saat teman-teman yang lain membuat karya ilmiah, ia justru membuat karya film dokumenter.

Baca: Sudah Resmi Tayang, Film Adrift Suguhkan Paduan Petualangan dan Kekuatan Cinta

Sebanyak 100 mahasiswa dari seluruh provinsi di Indonesia di kirim dalam ekspedisi ini.

Dan Ghalif yang saat itu masih menjadi mahasiswa ISI Yogyakarta ikut terlibat dalam ekspedisi ini.

Diceritakan Ghalif, ekspedisi yang berlangsung Oktober 2017 silam ini bertujuan untuk memetakan kekayaan alam Indonesia terkhusus rempah-rempahnya.

Karena kekayaan akan rempah ini pula Indonesia dijajah oleh Portugis dan Belanda pada zaman dulu.

"Selama dua minggu saya tinggal di rumah penduduk, di rumah mantan kepala desa Lonthor, yakni Bapak Arudes Warandi, yang juga mantan kepala sekolah SD di Pulau Banda Besar," ujarnya pada Tribunjogja.com.

Dari pada membahas persebaran pala pada zaman penjajahan, ia pun memutuskan mengangkat tema permasalah petani pala yang saat ini dirasakan.

Ghalif mencoba menggali kehidupan petani pala di sana melalui pendekatan film dokumenter berjudul Sepotong Surga dari Banda berdurasi 19 menit 25 detik.

Banyak kisah yang ia rekam di film ini.

Mulai dari proses pengeringan pala dengan metode pengasapan dan penjemuran.

Ia juga merekam kesenjangan harga pala karena permainan tengkulak, permasalahah sewa tanah ke pemerintah, hingga sedikitnya generasi muda yang mau menjadi petani pala.

"Pala pada masanya dikenal sebagai emas hitam, karena harganya yang begitu tinggi. Namun kini keadaan sudah berbalik, banyak permasalahan yang dialami petani pala dan harga pala yang rendah," terangnya.

Satu yang menyebabkannya adalah hasil proses pengasapan yang dihargai sama dengan proses pengeringan dengan metode dijemur.

Baca: Film Along with the Gods 2 Kembali Pecahkan Rekor Penonton

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved