Bantul

Lahan Pertanian di Baros Terendam Luapan Air Payau

Efek luapan air memang tak mengenai seluruh area pertanian, namun luasan yang terkena cukup besar.

Tayang:
Penulis: Susilo Wahid Nugroho | Editor: Ari Nugroho
IST
Yuswanto Harjono saat melihat lahan pertanian cabai miliknya yang sebagian terkena luapan air payau di Baros, Tirtohargo, Kretek, Bantul, Rabu (25/7/2018). 

TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Selain merusak sejumlah bangunan di sepanjang pantai selatan Bantul, gelombang tinggi pesisir laut jawa juga merendam sebagian lahan pertanian di daerah Baros, Tirtohargo, Kretek, Bantul.

Akibatnya, banyak lahan pertanian terancam gagal panen.

Di lokasi pertanian Baros yang letaknya hanya sekitar 200 meter dari bibir pantai ini, terdapat banyak tanaman pertanian seperti jagung, bawang merah, melon, kacang panjang, padi dan cabai.

Efek luapan air memang tak mengenai seluruh area pertanian, namun luasan yang terkena cukup besar.

Yuswanto Harjono, warga Srigading, Sanden, Bantul menjadi salah satu petani di lahan pertanian Baros yang terdampak gelombang tinggi.

Ombak tinggi diketahui membawa air laut kemudian bercampur dengan air tawar dari muara Kali Opak dan mengaliri sebagian lahan pertanian warga di Baros.

Baca: Dipertaru Bantul Selesaikan Desain Wisata Buatan Pantai Baros dan Samas Tahun Ini

Rabu (25/7/2018) siang, Yuswanto tampak sedang duduk di pinggir ladang cabai di Baros miliknya.

Pandangan matanya tertuju pada sebidang lahan pertanian cabai keriting seluas 1400 meter persegi miliknya.

“Kaget saya kok bisa air bisa masuk sebanyak ini dan secepat ini,” kata Yuswanto.

Puluhan tahun Yuswanto menggarap lahan pertanian di Baros, ia merasa baru kali ini luapan air begitu cepat merendam lahan pertanian dengan volume yang banyak.

Sebelumnya, kejadian masuknya air payau ke lahan pertanian berlangsung perlahan itupun tidak dalam jumlah banyak.

Sementara itu, luapan air payau ke lahan pertanian di Baros membuat Yuswanto ketar-ketir.

Pasalnya, tanaman cabai miliknya yang sudah siap panen terancam mati.

Beruntung, talud pembatas yang ia buat mengelilingi ladang cabai miliknya bisa mengurangi jumlah air payau yang masuk.

“Air tetap masuk tapi cuma sedikit di bagian bawah tanaman. Padahal sekitarnya tergenang. Kalau besok (hari ini) surut, tanaman aman. Tinggal saya siram lagi pakai air biasa (tawar). Tapi kalau terus-terusan seperti ini tanaman cabai lama-lama layu karena terendam air asin. Lalu mati,” kata Yuswanto.

Baca: Fakultas Bioteknologi UKDW Kembangkan Kawasan Ekowisata Mangrove Baros

Berbeda dengan Yuswanto, Paido, petani asal Baros yang juga punya garapan di Baros terpaksa gigit jari karena tanaman kacang tanah yang belum lama mulai tumbuh terancam mati.

Penyebabnya, karena air payau merendam nyaris sebagian area pertanian kacang tanah miliknya.

“Belum lama saya tanam. Belum sampai keluar kacang tanahnya. Baru keluar bunga. Hampir pasti mati kalau air payau tidak segera surut dan turun hujan. Padahal sekarang kan masih musim kemarau. Kalau tanaman mati saya bisa rugi Rp 3 juta lebih,” kata Paido ditemui di lahan pertanian Baros.

Senada dengan Yuswanto, Paido juga merasa bahwa meluapnya air payau ke lahan pertanian warga ini menjadi yang terparah setidaknya selama 50 tahun terakhir.

Sebelumnya, luapan air payau tidak sebanyak dan secepatnya hari ini. Baik Yuswanto maupun Paido berharap air luapan segera surut. (TRIBUNJOGJA.COM)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved