Bisnis

Kenaikan Dolar Jadikan Momentum Naikkan Ekspor

Nilai tukar rupiah yang melemah terhadap dolar Amerika Serikat yang hari ini melewati Rp 14 ribu akan berdampak positif untuk ekspor.

Penulis: Victor Mahrizal | Editor: Gaya Lufityanti

Laporan Reporter Tribun Jogja, Victor Mahrizal

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Melemahnya nilai rupiah atas dolar Amerika Serikat, seperti saat ini, tidak selalu berdampak buruk namun juga bisa dilihat sebagai momentum untuk meningkatkan ekspor.

Dan begitulah harapan Ketua Bidang Organisasi DPP Asosiasi Pengusaha Mebel Indonesia (Asmindo), Endro Wardoyo pada Selasa (3/7/2018), ketika rata-rata kurs tengah eceran rupiah terhadap dolar AS sekitar Rp14.418 per satu dolar AS.

Sebagai pelaku eksportir, Endro menyatakan nilai tukar rupiah yang melemah terhadap dolar Amerika Serikat yang hari ini melewati Rp 14 ribu akan berdampak positif untuk ekspor.

Namun, di sisi lain, kondisi ini dapat menyulitkan para importir.

"Pelemahan rupiah ini merupakan momentum kita untuk meningkatkan ekspor, meski demikian eksportir juga perlu cermat melihat peluang yang ada saat ini," ujarnya saat dihubungi Tribun Jogja.

Ia menjelaskan memang secara sederhana pemasukan ekspor akan lebih besar karena artinya pemasukan satu dolar AS akan bernilai lebih banyak dalam rupiah.

Namun di lapangan, perhitungannya tidak sesederhana itu, seperti dijelaskan Endro Wardoyo.

"Masalahnya bahan baku kita kan masih pakai dolar, seperti bahan kimia, kita kan masih impor lem, lilin dan lainnya. Jadi kalau dengan rupiah melemah ini kalau dibilang untung, ya nggak juga," ujarnya.

"Kecuali kalau semua bahan baku dari dalam negeri," imbuhnya. Jadi menurunnya nilai rupiah terhadap dolar tidak serta merta merupakan faktor keuntungan bagi para pengusaha yang mengekspor produknya.

Pernyataan Endro ini sejalan dengan Wakil Ketua Umum Kamar Dagang (Kadin) Indonesia Bidang Perdagangan, Benny Soetrisno.

Kadin Indonesia berharap bisa mendorong peningkatan ekspor sekitar 16%. Saat ini, kuartal I-2018, nilai ekspor sudah mencapai USD 50 miliar.

Namun, harapan kenaikan ekspor itu, kata Endro hanya dapat tercapai dengan beberapa catatan, bawasanya kenaikan dolar berlangsung dalam beberapa bulan ke depan tidak hanya beberapa pekan ini.

"Yang penting, pergolakan naik turunnya rupiah itu tidak terlalu fluktuatif dan bukan jangka pendek, jika kenaikan dolar ini hanya sekejap ya tidak akan punya pengaruh signifikan," kata Endro.

Ia menguraikan, puncak ekspor mebel Indonesia pernah mencapai angka 2,5 miliar dolar AS pada 2007, kemudian berangsur mengalami penurunan 1,8 miliar dolar AS pada 2010 dan pada 2017 berada di angka 1,6 miliar dolar AS.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved