Pendidikan
Butet Kartaredjasa dan Sundari Soekotjo Meriahkan Malam Temu Alumni MM UGM
Temu alumni yang bertemakan cultural night ini merupakanrangkaian Dies Natalis ke-30 program studi MM FEB UGM.
TRIBUNJOGJA.COM - Seniman kondang Butet Kartaradjasa dan biduan keroncong Sundari Soekotjo meriahkan malam temu alumni MM FEB UGM,Sabtu (30/6/2018) lalu di selasar MM UGM.
Temu alumni yang bertemakan cultural night ini merupakanrangkaian Dies Natalis ke-30 program studi MM FEB UGM.
Dalam penampilan monolognya, Butet menyindir bahwa saat ini sedang gandrung-gandrungnya banyak orang menyebutkan mereka para alumni padahal bukan lulusan perguruan tinggi.
Sehingga penyebutan nama alumni tersebut berkonotasi negatif karena adanya dukung mendukung menjelang tahun politik.
“Untungnya alumni MM UGM tidak seperti itu karena mereka adalah intelektual yang cerdas, tahu mana benar, mana yang hoaks, mana yang tidak,” ujarnya.
Menurut Butet, kegiatan reuni bisanya bertujuan untuk melampiaskan kerinduan orang pada tempat yang pernah ia dididik menjadi orang yang bermakna dan berarti.
“Acara reuni ini saya kira bukan acara kumpul-kumpul tapi membangun komunikasi dan persaudaraan antar sesama alumni, mirip seperti slogan bis kota, sesama alumni tidak boleh saling mendahului, tidak boleh bertengkar dan bermusuhan,” katanya.
Ia menambahkan bahwa UGM tidak hanya melahirkan akademisi dan intelektual tapi juga melahirkan negarawan.
Dari pertemuan alumni ini bisa mempererat tali persaudaraan sekaligus menegaskan bahwa alumni memberi yang terbaik di tempat kerja masing masing.
“Kalo jadi pemimpin yang giat dan bersemangat, kerja... kerja. Negara ini masih membutuhkan ilmu dan pengabdian anda sekalian, jangan pernah percaya Indonesia akan bubar 2030,” paparnya.
Selain Butet, artis kondang Sundari Soetkotjo menyanyikan lagu keroncong Rangkaian Melati.
Sundari merupakan salah satu alumnus MM FEB UGM yang hadir dalam acara reuni tersebut.
Sebelumnya di hari yang sama Sundari juga menjadi nara sumber dalam diskusi Leadership Talk yang menceritakan pengalamannya yang kini lebih banyak menggelut bisnis bersama anak semata wayangnya.
Meski begitu, musik keroncong tetap digelutinya.
“Saya mendirikan Yayasan Keroncong Indonesia, saya ingin membuka ruang untuk generasi muda mengenal, mencintai dan melestarikan musik keroncong. Kita tengah membuat bikin keoncong dengan menggabungkan genre dangdut, pop dan rock,” kata wanita asal Solo ini.