Sains

Pohon Berusia Ribuan Tahun di Afrika Ini Banyak yang Mati. Apa Sebabnya?

Mereka menemukan bahwa baobab memiliki struktur yang berbeda dari pohon pada umumnya.

Pohon Berusia Ribuan Tahun di Afrika Ini Banyak yang Mati. Apa Sebabnya?
Larre/Wikimedia Commons
Pohon-pohon baobab di Madagaskar

TRIBUNJOGJA.COM – Perubahan iklim yang disebabkan ulah manusia diduga menimbulkan dampak serius pada keberadaan pohon raksasa Afrika, Baobab.

Selama berabad-abad, atau bahkan ribuan tahun lamanya, pohon-pohon baobab telah menjulang tinggi di Afrika.

Namun, studi baru menemukan bahwa makhluk-makhluk tertua dan terbesar di antara tanaman berbunga yang dijuluki “Pohon Kehidupan” karena kemampuannya menyimpan air ini sedang dalam krisis besar.

Adrian Patrut dan kolega-koleganya dari Babe?-Bolyai University, Rumania, mengungkapkan hal ini setelah mereka menginvestigasi bagaimana baobab bisa tumbuh hingga ukurannya yang luar biasa tersebut.

Sejak tahun 2005, Patrut dan kolega menganalisis lebih dari 60 baobab tertua di Afrika.

Mereka menemukan bahwa baobab memiliki struktur yang berbeda dari pohon pada umumnya.

Baca: Wow, Pohon Raksasa Randu Alas di Kebonrejo Ini Usianya 200 Tahun, Lebarnya 21 Meter

Baobab ternyata tidak memiliki satu batang tunggal, tetapi merupakan tanaman dengan batang banyak yang menyatu secara vertikal.

Para peneliti menjelaskan dalam makalahnya, mayoritas baobab bermula sebagai pohon berbatang tunggal.

Namun, kemudian menjadi berbatang banyak berkat kemampuan baobab untuk menghasilkan batang baru secara periodik, ini seperti cara spesies pohon lain memproduksi cabang baru.

Ketika mempelajari struktur kompleks ini, Patrut dan kolega menemukan bahwa delapan dari 13 baobab tertua baru saja mati atau sedang mengalami keruntuhan internal yang akan berujung pada kematian.

Halaman
12
Editor: Ari Nugroho
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved