Singgah di Masjid Bersejarah
Video Masjid Rotowijayan, Penuh dengan Kisah Perjuangan Abdi Dalem
Video Masjid Rotowijayan, Penuh dengan Kisah Perjuangan Abdi Dalem Keraton Ngayogyakarta.
Penulis: Yudha Kristiawan | Editor: Hari Susmayanti
TRIBUNJOGJA.COM - Masjid ini berada di Kompleks Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, didirikan di masa pemerintahan Sultan Hamengku Buwono II.
Masjid gagah dan kokoh ini erat kaitannya dengan sejarah perkembangan Islam di Yogyakarta.
Masjid yang dikenal dengan sebutan Masjid Rotowijayan ini berada di Kompleks Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.
Tepatnya persis di depan sebelah selatan pintu masuk wisata ke keraton.
Masjid yang memiliki luas kurang lebih 500 meter persegi ini didirikan pada masa pemerintahan Sultan Hamengku Buwono II. Tepatnya didirikan pada tanggal 2 April 1792 silam.
Pengageng Tepas Dwarapura Karaton Ngayogyakarta, KRT H Jatiningrat SH menjelaskan, masjid ini dibangun untuk memperingati jumenengan dalem Sri Sultan Hamengku Buwono II.
Waktu itu namanya Masjid Suronoto atau Suronatan. Mengapa demikian? Karena yang bertugas menunggu dan merawat masjid tersebut adalah abdi dalem Suronoto.
Tugas utama abdi dalem ini adalah mengurusi dan merawat pusaka-pusaka milik keraton.
Selain itu, abdi dalem Suronoto juga dipercaya mendalami masalah-masalah yang bersifat agama bersama abdi dalem Kaji.
Baca: Video Masjid Agung Giriloyo, Jejak Sultan Agung Sepulang dari Mekkah
Namun tugas pokoknya tetap memelihara atau ngruwat semua pusaka milik keraton.
Lebih lanjut KRT H Jatiningrat menjelaskan, masjid ini menyimpan sejarah perjuangan Keraton Ngayogyakarta menghadapi penjajahan pada masa itu.
Diceritakan Jatiningrat, pada tahun 1812, Inggris menyerang keraton. Pada peristiwa itu, salah atau pimpinan Inggris sempat tertembak oleh abdi dalem Suronoto dan membuat marah sehingga meminta Sri Sultan Hamengku Buwono II diakhiri hidupnya.
Namun permintaan ini tidak dikabulkan pimpinan Inggris lainnya. Alhasil Sri Sultan bersama dua Pangeran yang menonjol saat itu yakni Pangeran Murdaningrat, dan Mangkudiningrat diasingkan.
"Mereka dengan rombongan berjumlah sekitar 81 orang diasingkan ke Penang. Terjadi dinamika politik, Inggris pergi dan tawanan diserahkan ke Belanda. Sultan sempat dibawa ke Batavia. Namun karena Belanda khawatir Sultan agresif, lalu kembali diasingkan ke Ambon," terang Jatiningrat.
Selanjutnya, terang Jatiningrat, pada tahun 1824 di Ambon, Pangeran Mangkudiningrat meninggal. Saat jenazah akan dimakamkan, terjadi peristiwa yang tak lazim, tiba-tiba hujan badai.
Melihat ini, Sultan bersabda kala itu, bakal membawa jenazah Pangeran Mangkudiningrat kembali ke Yogya.
Untuk sementara jenazah diawetkan. Ia juga meminta saat ia meninggal untuk dimakamkan berdampingan dengan sang pangeran.
Singkat cerita pada tahun 1824, jenazah sang pangeran bisa dibawa kembali ke Yogya. Jenazah kemudian disemayamkan di Masjid Suronatan.
Jenazah tersebut ditunggu oleh abdi dalem pembawa payung sang pangeran, Ki Driyo Wijoyo. Dua tahun setelahnya, yakni pada tahun 1826 Sri Sultan Hamengku Buwono II wafat.
"Akhirnya jenazah pangeran Mangkudiningrat dan Sri Sultan Hamengku Buwono II dimakamkan di Kotagede," kata Jati.
Jatiningrat menambahkan, ketika pada tanggal 19 Desember 1948 Belanda menyerang Yogya termasuk Keraton, para abdi dalem Suronoto merasa tidak aman sehingga mereka pindah ke Masjid Panepen yang berada di dalam keraton.
Masjid sempat kosong. Hingga akhirnya dihidupkan kembali oleh abdi dalem Rotowijayan saat Belanda sudah meninggalkan Yogya.
Masjid pun hidup kembali. Oleh para abdi dalem yang dipercaya merawat kuda dan kereta ini, nama masjid kemudian diusulkan diganti dengan nama Masjid Rotowijayan.
Melalui Pangeran Prabuningrat dengan restu Sri Sultan Hamengku Buwono IX pada waktu itu, akhirnya disetujui untuk mengubah nama masjid yang sebelumnya Masjid Suronatan diganti menjadi Masjid Rotowijayan hingga saat ini.
Dikatakan Jatiningrat, hingga saat ini, beberapa renovasi dilakukan di masjid yang memiliki daya tampung jemaah 150 hingga 200 orang ini.
Renovasi besar yang pernah dilakukan adalah mengganti atap yang sudah usang lantaran usia.
Dilihat dari arsitektur bangunan masjid ini, tak lepas dari ciri khas bangunan keraton. Memiliki dinding tebal sekitar 60 hingga 70 sentimeter.
Di ruang utama ada empat tiang penyangga atau juga disebut soko.
Di bagian bawah masing masing tiang ini terdapat hiasan huruf Arab ha, mim dan dal. Menurut keterangan Jatiningrat, hiasan ini bermakna Muhammad.
Mengapa hiasan ini diletakkan di bawah, karena memiliki filosofi bahwa Nabi Muhammad sebagai tiang penyangga agama.
"Hiasan di soko atau tiang penyangga ini juga ditemukan di semua bangunan milik keraton. Soko ini sangat menentukan kondisi bangunan sehingga dibuat dengan kayu berkualitas tinggi. Selain itu, di bagian atap dalam juga terdapat aksesori yang disebut dodopeksi dari kata dodopahesi bermakna hiasan. Aksesori lainnya ada bedug yang hampir di semua masjid kagungan dalem memilikinya. Pada tahun 1950-an oleh pemerintah, masjid ini juga difungsikan sebagai KUA, " tandasnya. (yudha kristiawan)