Singgah di Masjid Bersejarah

Video Masjid Perak Kotagede, Dibangun Lebih Modern Setelah Gempa 2006

Video Masjid Perak Kotagede, Dibangun Lebih Modern Setelah Gempa 2006 yang Meluluhlantakan DIY.

Tayang:
Penulis: Rizki Halim | Editor: Hari Susmayanti

TRIBUNJOGJA.COM - Sekilas tidak ada yang istimewa saat melihat wujud bangunan Masjid Perak yang berada di Jalan Mondorakan Blok KG No 11, Kotagede, Yogyakarta.

MASJID tersebut terlihat seperti masjid-masjid pada umumnya, yang tampak megah, modern dan bersih, meskipun bangunan tersebut tidak begitu luas.

Padahal sejatinya, masjid tersebut sarat dengan sejarah dan merupakan saksi bisu kejayaan Kotagede dari jaman penjajahan hingga bisa berjaya sampai saat ini.

Masjid Perak sebenarnya dahulu memiliki desain tradisional dan tidak modern seperti sekarang ini.

Namun gempa bumi yang terjadi pada tahun 2006 lalu membuatnya rusak parah dan harus direnovasi total.

Akhirnya, pada tahun 2009, Masjid Perak harus dibongkar dan diperbaiki total, namun beberapa desain bentuk asli, ornamen-ornamen penting dan beberapa tiang penyangga di dalam masjid tetap dipertahankan.

Masjid Perak Kotagede, sendiri didirikan sebelum Indonesia merdeka, tepatnya pada tahun 1937 oleh tiga tokoh Muhammadiyah, yaitu H Mashudi, H Mudzakir, dan KH Amir.

Setelah dibangun sejak 1937, Masjid Perak selesai dalam jangka waktu 3 tahun yaitu tahun 1940, untuk kemudian dapat digunakan oleh para jamaah.

Baca: Video Masjid Soko Tunggal, Ada Kisah Umpak Petilasan Sultan Agung

Luapan jemaah

Masjid Perak sendiri merupakan masjid pertama yang berdiri setelah Masjid Kotagede Mataram.

"Ketika Masjid Kotagede Mataram saat itu dirasa tidak bisa menampung jemaah yang bertambah banyak, lalu beberapa tokoh Muhammadiyah memiliki gagasan untuk mendirikan masjid ini," cerita Ketua Takmir Masjid Perak, Jindar Fathoni.

Selain itu, berdirinya Masjid Perak ini juga dipengaruhi oleh terbatasnya kegiatan-kegiatan umat Islam di Masjid Mataram masa itu dikarenakan Masjid Mataram merupakan milik keraton, maka harus meminta izin kepada pihak keraton terlebih dahulu untuk melakukan kegiatan di dalamnya.

Karena sulitnya mengurus izin penggunaan Masjid Mataram tersebut kemudian menjadi salah satu alasan pembangunan Masjid Perak agar lebih bisa menjangkau umat lebih banyak.

Terlebih lagi, Masjid Mataram dulu masih melakukan ibadah dengan cara yang sangat tradisional, karena kental dengan pengaruh keraton kala itu.

Beberapa faktor tersebut yang kemudian menjadi latar belakang para tokoh Muhammadiyah pada masa itu akhirnya membangun Masjid Perak.

Sedangkan untuk pemberian nama Masjid Perak ternyata bukan dikarenakan Kotagede merupakan tempat di mana banyak pengusaha dan pedagang perak yang masyhur, tetapi nama perak disadur dari bahasa arab "Firaq" yang bermakna memisahkan.

"Perak diambil dari kata firaq, yang maknanya memisahkan, bukan karena berdiri di kota yang terkenal dengan perak lalu namanya dibuat menjadi Masjid Perak, memang kemudian Kotagede menjadi banyak pengusaha perak setelah itu," pungkas Jindar. (rizky halim)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved